Media Kampung – 22 Maret 2026 | London, 21 Maret 2026 – Pemerintah Inggris secara resmi menyetujui permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer di wilayahnya dalam rangka operasi yang menargetkan kemampuan rudal Iran. Keputusan itu diambil dalam pertemuan kabinet pada 20 Maret.
Pernyataan resmi dari Downing Street menegaskan bahwa penggunaan pangkalan tersebut merupakan bagian dari pertahanan kolektif kawasan dan bertujuan menghentikan ancaman terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi sekitar 20 juta barel minyak dan 20 % perdagangan gas cair global setiap harinya.
Para menteri kabinet menegaskan bahwa operasi AS akan fokus pada penurunan kemampuan dan lokasi situs rudal yang dipakai Tehran untuk menyerang konvoi maritim. Langkah itu dipandang sebagai respons terhadap serangan drone dan rudal Iran yang menutup sebagian besar lalu lintas di selat tersebut.
Pemerintah Inggris menekankan prinsip de‑eskalasi dan penyelesaian damai sebagai landasan kebijakan luar negerinya. Dalam pernyataan yang sama, mereka mengutuk perluasan target Iran yang mencakup pelayaran internasional, termasuk kapal berbendera Red Ensign dan armada sekutu di Teluk.
Kepala oposisi konservatif, Kemi Badenoch, menanggapi keputusan ini melalui akun X dengan menyebutnya sebagai ‘perubahan haluan terbesar sepanjang masa’. Ia menilai langkah tersebut memperkuat posisi Barat dalam menahan agresi Tehran.
Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas meskipun mendukung tindakan defensif bagi sekutunya. Ia menambah pemerintah akan terus berupaya mengakhiri konflik melalui diplomasi.
Sejak serangan gabungan AS‑Israel terhadap Iran pada 28 Februari, London beralih dari penolakan awal akses pangkalan menjadi integrasi logistik dan kinetik yang mendalam. Perubahan ini mencerminkan peningkatan tekanan pada Iran setelah pembunuhan pemimpin tertinggi Ali Khamenei.
Menurut data militer, serangan Iran telah menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal komersial, mengganggu aliran energi dunia. Penutupan tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi signifikan bagi Inggris dan pasar global.
Para analis menilai bahwa keberadaan pangkalan Inggris dapat mempercepat respons AS terhadap target rudal, namun juga menambah risiko eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Mereka memperingatkan bahwa tindakan balasan Iran dapat meluas ke wilayah lain.
Pihak pemerintah menegaskan bahwa penggunaan pangkalan tidak akan mengubah status hukum internasional terkait kedaulatan Iran. Semua operasi akan dilakukan dalam kerangka pertahanan diri kolektif dan sesuai dengan perjanjian NATO.
Kritik domestik muncul mengenai implikasi kebijakan luar negeri Inggris yang semakin pro‑Amerika. Beberapa anggota parlemen mengingatkan bahwa keterlibatan militer dapat menimbulkan beban politik dan keuangan bagi negara.
Meskipun demikian, pemerintah menilai bahwa melindungi jalur pelayaran vital lebih penting daripada risiko geopolitik tambahan. Keputusan ini menandai langkah signifikan Inggris dalam mengatasi ancaman rudal Iran dan menjaga stabilitas pasar energi global.
Pihak militer AS menyatakan kesiapan untuk meluncurkan serangan presisi terhadap situs rudal setelah mendapat izin penggunaan pangkalan di Inggris. Operasi tersebut diharapkan dapat menurunkan kemampuan peluncuran Iran dalam hitungan minggu.
Observasi dari lembaga think‑tank internasional menunjukkan bahwa penurunan kemampuan rudal Iran dapat membuka ruang bagi negosiasi kembali antara Tehran dan negara‑negara Barat. Namun, para pengamat memperingatkan bahwa stabilitas jangka panjang tetap bergantung pada penyelesaian konflik di wilayah tersebut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.

