Daftar Isi
Media Kampung – 18 Maret 2026 | Operasi militer yang dicanangkan bersama antara Amerika Serikat dan Israel, yang dinamai Operation Epic Fury, menargetkan inti program nuklir, kemampuan rudal, serta jaringan proksi Tehran. Sejak hari pertama konflik, narasi resmi Washington menekankan tujuan strategis untuk melemahkan ancaman Iran dan membuka peluang perubahan rezim. Namun, hasil awal menunjukkan kesenjangan signifikan antara harapan politik dan pencapaian di medan perang.
Strategi Operasi Epic Fury dan Penilaian Awal
Menurut penilaian awal, serangan udara berhasil menghancurkan sebagian fasilitas balistik dan infrastruktur energi militer Iran, namun estimasi kerusakan total baru berada pada kisaran tiga puluh lima sampai empat puluh lima persen. Sebagian besar aset penting tetap tersembunyi di bawah tanah atau didistribusikan secara mobile, sehingga kemampuan adaptasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap terjaga. Upaya menggulingkan rezim, yang awalnya diproyeksikan memiliki peluang tinggi, kini diperkirakan hanya mencapai dua puluh hingga tiga puluh persen, dengan prediksi pasar prediksi sekitar empat puluh lima persen kemungkinan kejatuhan sebelum akhir dua ribu dua puluh enam.
Implikasi Politik bagi Presiden Trump
Gagalnya pencapaian militer berimplikasi langsung pada legitimasi domestik Presiden Donald Trump. Konflik yang diproyeksikan sebagai kemenangan cepat justru menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan luar negeri dan alokasi anggaran. Kritik dari partai lawan serta kelompok pemilih moderat meningkat, menyoroti biaya yang terus melaju dan kurangnya hasil yang dapat dibuktikan. Di samping itu, dukungan publik terhadap kebijakan luar negeri Trump menurun, memperparah tekanan dalam koalisi partainya.
Pandangan Kolumnis Barat, Rusia, dan Turki
Berbagai pengamat Barat menilai operasi ini sebagai contoh klasik intervensi yang mengakibatkan konsolidasi kekuasaan di dalam negeri target. Salah satu kolumnis menekankan bahwa tanpa invasi darat atau fragmentasi elit Iran, serangan udara saja tidak cukup untuk memicu runtuhnya rezim. Rusia, yang mengamati dari sudut geopolitik, menyatakan bahwa eskalasi ini dapat memperluas ketegangan di Teluk Persia dan mengancam stabilitas pasar energi global. Turki, sebagai negara yang memiliki kepentingan strategis di wilayah tersebut, memperingatkan bahwa konflik berlarut‑lurus dapat memicu arus migrasi dan mengganggu jalur perdagangan laut.
- Rusia mengkritik pendekatan unilateral Amerika Serikat dan menyoroti risiko proliferasi senjata.
- Turki menekankan pentingnya dialog multilateral untuk menghindari spiralisasi konflik.
- Kolumnis Barat menekankan efek “rally around the flag” yang memperkuat posisi pemerintah Tehran.
Prospek Ke Depan dan Kesimpulan
Tanpa perubahan signifikan dalam taktik, seperti penyertaan pasukan darat atau dukungan kuat bagi oposisi internal Iran, kemungkinan perubahan rezim tetap rendah. Sejarah hubungan internasional menunjukkan bahwa intervensi udara cenderung memperkuat narasi nasionalis dan memperkuat kontrol keamanan dalam negeri. Bagi Trump, kegagalan strategi ini menambah beban politik yang dapat mempengaruhi agenda pemilihan berikutnya. Sementara itu, Rusia dan Turki tetap menyoroti perlunya solusi diplomatik yang melibatkan semua pihak regional untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Kesimpulannya, operasi militer AS‑Israel terhadap Iran belum mencapai target strategis yang dijanjikan, sekaligus menimbulkan dampak politik signifikan bagi Presiden Trump dan menimbulkan keprihatinan di antara sekutu Barat, Rusia, serta Turki.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.








