Media Kampung – 11 Maret 2026 | JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berhasil mengevakuasi 22 warga negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya berada di Iran. Rombongan tersebut tiba di Bandara Internasional Soekarno‑Hatta pada Selasa sore, 10 Maret 2026, menandai selesainya gelombang pertama operasi evakuasi yang digelar sejak ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memuncak.
Komposisi dan jalur evakuasi
Kelompok 22 orang terdiri atas 14 pelajar/mahasiswa, 5 wisatawan, 2 tenaga medis (PMI), 1 pengajar/jurnalis, serta 1 pekerja teknisi pesawat. Semua penumpang ditempatkan dalam satu penerbangan Turkish Airlines yang berangkat dari Baku, Azerbaijan, dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta via Bandara Internasional Soekarno‑Hatta.
Pernyataan Kementerian Luar Negeri
Menteri Luar Negeri, Sugiono, menyampaikan bahwa proses evakuasi ini telah dilaksanakan dengan koordinasi intensif antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tehran, otoritas penerbangan Azerbaijan, serta maskapai penerbangan yang bersangkutan. “Kami mengutamakan keselamatan WNI, memperhitungkan faktor keamanan, regulasi otoritas setempat, dan logistik yang tersedia,” ujar Sugiono dalam konferensi pers di Bandara Soekarno‑Hatta.
Sugiono menambahkan bahwa gelombang kedua akan melibatkan 36 WNI tambahan yang telah mendaftar untuk repatriasi. “Hari demi hari, kami terus memantau situasi di Iran dan berupaya menghubungi setiap WNI yang masih berada di wilayah konflik,” katanya.
Saksi mata: Kondisi di Tehran
Salah satu pekerja teknisi pesawat, yang meminta disebut sebagai “Tetap Segar” (58), memberikan gambaran hidup di Tehran selama masa krisis. Ia menjelaskan bahwa perusahaan tempatnya bekerja menutup operasional dan menempatkan para pekerja dalam status siaga. “Setiap hari ada serangan rudal, terutama yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Kami terbiasa, namun tetap waspada,” ujar Segar.
Segar menegaskan bahwa sejak serangan meningkat, ia dan rekan‑rekan WNI langsung dipulangkan ke asrama dan menunggu instruksi dari KBRI. “Kami tidak merasakan kepanikan berlebih karena sudah terbiasa dengan situasi ini, namun tetap berharap dapat segera kembali ke Indonesia,” tambahnya.
Proses repatriasi secara teknis
- Registrasi WNI di Kedutaan Tehran melalui formulir darurat.
- Koordinasi dengan otoritas Iran untuk mendapatkan izin keluar.
- Penerbangan khusus Turkish Airlines dari Baku, mengingat ruang udara Iran sebagian ditutup.
- Transit di Azerbaijan, kemudian melanjutkan ke Jakarta.
Seluruh proses berlangsung dalam waktu kurang lebih tiga hari, termasuk penanganan dokumen perjalanan, pemeriksaan keamanan, dan penyesuaian jadwal penerbangan.
Reaksi masyarakat dan harapan ke depan
Kelompok WNI yang kembali ke tanah air disambut hangat oleh petugas bandara dan keluarga yang menunggu. Beberapa mahasiswa mengungkapkan rasa lega dan berterima kasih kepada pemerintah serta tim evakuasi. “Kami dapat melanjutkan studi di Indonesia tanpa harus khawatir lagi,” kata salah satu mahasiswa asal Jawa Barat.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus memantau keamanan WNI di seluruh wilayah konflik, serta memberikan bantuan konsuler dan logistik bagi mereka yang masih berada di luar negeri. “Prioritas kami adalah melindungi warga negara Indonesia di manapun mereka berada,” tutup Sugiono.
Dengan selesainya gelombang pertama evakuasi, harapan besar kini tertuju pada pelaksanaan gelombang kedua yang diharapkan dapat membawa pulang seluruh WNI yang masih tertahan di Iran. Keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti kesiapan pemerintah dalam menghadapi situasi krisis internasional yang dinamis.









Tinggalkan Balasan