Media Kampung – 01 April 2026 | Reza Arap mempublikasikan surat terbuka lewat akun Instagram pribadi pada 29 Maret 2026 sebagai bentuk penghormatan kepada almarhumah pasangannya, Lula Lahfah.

Surat tersebut berisi permohonan resmi kepada Lula untuk diberikan izin melanjutkan hidup setelah kepergiannya.

Lula Lahfah meninggal dunia pada 23 Januari 2026 di apartemen Jakarta Selatan, kemudian dimakamkan di TPU Rawa Terate, Cakung, pada keesokan harinya.

Kematian tersebut meninggalkan rasa hampa pada Reza, yang mengaku menghabiskan hari-harinya berbicara pada bangku taman, dinding, dan unsur alam lain.

Ia menuturkan bahwa orang di sekitarnya menilainya gila karena sering berbicara sendiri, bahkan anak‑anak menambahkan komentar serupa.

Pernyataan itu diiringi refleksi tentang ego yang selama ini menguasai dirinya sebelum ia menemukan kerendahan hati melalui doa.

Reza menuturkan, “Aku berlutut, menangis, memohon, menggaruk kuku ke lantai, lalu berdoa; ego‑ku hancur.”

Doa tersebut menjadi titik balik spiritual yang mengubah cara ia memandang kehilangan.

Lula, menurut Reza, berperan penting dalam memperbaiki citra publiknya yang sempat terpuruk selama bertahun‑tahun.

Tanpa diminta, Lula membantu menampilkan sisi terbaik Reza kepada masyarakat, sehingga persepsi publik berubah positif.

Keduanya sempat merencanakan proyek film bersama, yang kini menjadi satu‑satunya tugas terakhir yang ingin diselesaikan Reza.

Reza menegaskan bahwa tugas menjaga Lula telah selesai, namun ia berkomitmen menyelesaikan film sebagai penghormatan.

Dalam suratnya, ia meminta izin secara terbuka untuk “move on” dan berjanji akan mengurangi keluhan dalam hidupnya.

Kalimat “Aku izin move on with my life ya, sayang” disertai janji untuk menjalani hari‑hari berikutnya dengan lebih baik.

Reza menambahkan niatnya untuk menjadi versi diri yang lebih dewasa dan bertanggung jawab.

Pengumuman tersebut langsung menjadi topik hangat di media sosial, menjadikan nama Lula Lahfah tren utama dalam 24 jam terakhir.

Netizen menanggapi surat itu dengan empati, mengapresiasi kejujuran Reza dalam menghadapi duka.

Para pengamat budaya menilai bahwa keterbukaan publik tentang proses berduka dapat menjadi contoh positif dalam mengelola rasa kehilangan.

Dengan menutup suratnya, Reza menegaskan kembali komitmen menyelesaikan film dan melanjutkan hidup sesuai ajaran yang pernah disampaikan Lula.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.