Media Kampung – 15 April 2026 | Santri Al-Anwar 3 memperkuat kebiasaan mengurangi plastik sekali pakai melalui program Pengelolaan Sampah (PPS) yang diluncurkan di pesantren Al-Anwar 3, Banyuwangi.

Program ini dimulai pada awal Januari 2024 dengan melibatkan seluruh santri, pengurus, dan warga sekitar dalam edukasi lingkungan serta produksi barang ramah lingkungan.

Ketua program, Ustadz Ahmad Fauzi, menyatakan, “Kita ingin menanamkan kesadaran sejak dini bahwa plastik sekali pakai bukan solusi, melainkan beban bagi bumi.”

Isu pencemaran plastik di Indonesia masih menjadi tantangan besar, dengan estimasi 3,2 juta ton sampah plastik masuk laut setiap tahunnya.

Melalui PPS, santri diajarkan cara memisahkan sampah organik dan anorganik serta teknik daur ulang sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan pesantren.

Serangkaian lokakarya praktis diadakan setiap minggu, mencakup pembuatan tas kain, tempat minum dari bambu, serta kompos organik untuk kebun pesantren.

Produk ramah lingkungan yang dihasilkan telah dipasarkan secara internal, dengan penjualan pertama mencapai 200 unit tas belanja berbahan katun organik.

Keberhasilan program ini mulai merambah ke rumah tangga warga sekitar, yang kini lebih memilih membawa wadah sendiri saat berbelanja di pasar tradisional.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memberikan dukungan berupa fasilitas tempat sampah terpilah dan pelatihan tambahan bagi para santri.

Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas jaringan pengelolaan sampah di wilayah Kabupaten Banyuwangi, khususnya di desa-desa yang belum memiliki program serupa.

Rencana ke depan, PPS akan menambah modul tentang pengelolaan limbah cair dan energi terbarukan untuk melengkapi kurikulum lingkungan.

Santri Al-Anwar 3 juga menargetkan peningkatan produksi barang daur ulang sebanyak 30 persen pada akhir tahun 2024.

Dalam rapat evaluasi terakhir, tim PPS melaporkan bahwa tingkat partisipasi santri mencapai 95 persen, menandakan keberhasilan penerimaan program.

Para santri melaporkan perubahan perilaku signifikan, seperti menghindari penggunaan sedotan plastik dan memilih botol isi ulang.

Penggunaan plastik sekali pakai di kantin pesantren turun drastis, dari 120 kantong plastik per minggu menjadi hanya 20 kantong.

Studi kecil yang dilakukan oleh dosen Universitas Jember menunjukkan bahwa intervensi edukatif serupa dapat mengurangi sampah plastik hingga 50 persen dalam jangka enam bulan.

Dengan mengintegrasikan PPS ke dalam mata pelajaran keagamaan dan ilmu pengetahuan, pesantren berupaya menjadikan lingkungan bersih sebagai bagian dari nilai moral.

Selain itu, santri dilatih menjadi agen perubahan yang dapat menyebarkan pengetahuan ini ke sekolah-sekolah lain di sekitar Banyuwangi.

Komunitas lokal menanggapi positif inisiatif ini, dengan beberapa pedagang pasar menawarkan diskon bagi pembeli yang membawa tas sendiri.

Pada bulan Maret 2024, PPS mengadakan pameran produk daur ulang yang dihadiri lebih dari 500 pengunjung, memperlihatkan kreativitas santri dalam mengolah limbah.

Kegiatan tersebut juga menjadi ajang pertukaran ide antara santri, warga, dan pelaku usaha mikro yang tertarik mengadopsi model bisnis berkelanjutan.

Keberlanjutan program kini didukung oleh sponsor lokal yang menyediakan bahan baku ramah lingkungan seperti bambu dan serat kelapa.

Dengan adanya dukungan finansial, PPS berencana memperluas workshop menjadi dua kali lipat dalam setahun ke depan.

Pengelolaan sampah yang efisien tidak hanya meningkatkan kebersihan lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi para santri.

Hasil penjualan produk daur ulang telah dialokasikan untuk memperbaiki fasilitas pesantren, termasuk pembangunan area kompos tertutup.

Pembelajaran praktis ini diharapkan menumbuhkan jiwa wirausaha sosial di kalangan santri.

Secara keseluruhan, Santri Al-Anwar 3 berhasil mengubah pola konsumsi plastik sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan di tingkat lokal.

Kondisi terbaru menunjukkan penurunan signifikan dalam volume sampah plastik yang masuk ke tempat pembuangan akhir di wilayah Banyuwangi.

Program PPS kini menjadi contoh bagi pesantren lain di Jawa Timur yang ingin mengintegrasikan aksi lingkungan dalam pendidikan agama.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.