Media Kampung – Film Yang Disebut Nakal karya DLK Pictures dijadwalkan tayang di bioskop pada 2027. Film ini mengangkat isu pelabelan negatif terhadap anak dan remaja yang sering terjadi di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan mengisahkan keseharian, film ini bertujuan untuk membantu penonton memahami bahwa perilaku yang dianggap nakal tidak selalu mencerminkan karakter atau potensi seorang anak.
Produser DLK Pictures, Diana Limbong, menjelaskan bahwa gagasan film ini muncul dari diskusi dengan sutradara mengenai realitas kehidupan remaja. Diskusi tersebut mendorong tim produksi untuk mengangkat pengalaman anak-anak yang sering diabaikan atau diberi cap nakal. “Film ini adalah memperkenalkan dan memahami bagaimana anak-anak yang diabaikan atau dicap nakal ini sebetulnya tidak ingin disebut nakal,” ujar Diana Limbong di kawasan Kemang, 21 Oktober 2026.
Menggali Perspektif Anak
Diana menjelaskan, cerita dari film Yang Disebut Nakal berangkat dari kejadian sehari-hari yang dekat dengan kehidupan remaja. Melalui pendekatan ini, film berusaha menyuarakan pengalaman anak-anak yang sering tidak mendapatkan ruang untuk menjelaskan diri mereka. “Dengan kejadian sehari-hari, kita bisa mengenal bahwa yang disebut nakal itu hanya sebuah label,” tambahnya.
Sutradara Benni Setiawan menegaskan bahwa film ini ditujukan terutama untuk orang tua, bukan anak-anak. Ia menegaskan, ketika masyarakat memberikan label negatif kepada seorang anak, orang dewasa juga perlu mengevaluasi cara mereka memahami perilaku anak. “Kita membuat film ini bukan untuk ditonton anak-anak, tapi orang tua. Karena ketika ada label tentang anak nakal, justru yang harus belajar itu lingkungannya dan orang tuanya,” tegas Benni.
Pandangan Baru Terhadap Anak Nakal
Eksekutif Produser Rian Prasetyo menambahkan bahwa industri film Indonesia masih jarang mengangkat kisah anak-anak yang dianggap bermasalah dari perspektif yang simpatik. Ia berharap film ini dapat memberikan sudut pandang berbeda dari cerita yang biasanya menampilkan anak-anak dengan pencapaian atau karakter ideal. “Kalau saya lihat, film-film lain banyak yang membuat cerita tentang anak-anak yang sudah sempurna dan hebat-hebat. Sangat jarang, dan saya lihat belum ada yang membuat film dari sudut pandang anak-anak yang dianggap nakal ini,” kata Rian.
Film ini berusaha menunjukkan bahwa label nakal tidak selalu mencerminkan keseluruhan diri seorang anak. Di balik perilaku yang dianggap mengganggu, bisa jadi terdapat minat, kemampuan, atau kebutuhan yang belum dipahami oleh orang dewasa.












