Media Kampung – 11 April 2026 | Pemerintah menurunkan tarif impor gula untuk menurunkan harga konsumen, namun langkah itu menurunkan harga jual petani lokal secara signifikan.
Data terbaru Badan Pusat Statistik memperlihatkan produksi tebu nasional tetap tinggi, namun sebagian besar hasilnya belum terserap oleh pabrik penggiling.
Petani di beberapa provinsi melaporkan penurunan pendapatan hingga 30 persen dibandingkan musim panen sebelumnya.
Para petani menilai persaingan dengan gula impor yang lebih murah mengakibatkan stok gula domestik menumpuk di gudang.
Para produsen gula domestik mengaku kesulitan menjual produk karena pasar lebih memilih gula impor yang memiliki harga kompetitif.
Ketidakmampuan pasar menyerap produksi lokal memaksa beberapa petani menunda penanaman tebu pada musim berikutnya.
Pengamat ekonomi menilai kebijakan impor yang bersifat jangka pendek berpotensi merusak daya saing sektor pertanian jangka panjang.
Dalam sebuah pertemuan, Ketua Asosiasi Petani Gula mengungkapkan keprihatinan atas penurunan harga jual yang mengancam kelangsungan usaha mereka.
Ia menambahkan bahwa tanpa dukungan kebijakan yang memadai, petani akan terpaksa beralih ke komoditas lain yang lebih menguntungkan.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyatakan akan meninjau kembali kebijakan tarif guna melindungi petani, namun belum ada keputusan konkret.
Sementara itu, importir gula menyatakan bahwa permintaan dalam negeri masih tinggi, sehingga mereka akan terus memasok gula dengan harga kompetitif.
Para ahli menekankan pentingnya diversifikasi pasar dan peningkatan efisiensi produksi untuk menambah daya saing gula lokal.
Upaya peningkatan teknologi pengolahan dan pemasaran digital juga diusulkan sebagai solusi jangka panjang.
Jika tidak ada penyesuaian kebijakan, risiko penurunan produksi tebu nasional dapat berdampak pada ketahanan pangan dan pendapatan petani di masa mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan