Media Kampung – 11 April 2026 | Ketegangan yang meningkat di Selat Hormuz pada minggu ini memicu lonjakan harga plastik di pasar domestik, menimbulkan kekhawatiran bagi produsen dan konsumen. Kondisi tersebut menambah beban biaya produksi dan mempercepat inflasi pada sektor barang konsumsi.

Selat Hormuz tetap menjadi jalur strategis bagi pengiriman minyak mentah dan produk turunannya, termasuk NAFTA, yang melintasi perairan itu setiap hari. Gangguan yang terjadi akibat ancaman militer dan penurunan volume kapal mengganggu rantai pasok global.

NAFTA, atau minyak nabati, adalah cairan hidrokarbon menengah yang diolah dari minyak mentah dan menjadi bahan baku utama bagi produksi biji plastik. Kualitas dan kuantitas NAFTA sangat menentukan biaya pembuatan produk plastik seperti kemasan, pipa, dan bahan bangunan.

Gangguan di Selat Hormuz menyebabkan penurunan pasokan NAFTA ke pabrik-pabrik Indonesia, sehingga stok menipis dan produsen terpaksa mencari alternatif dengan harga lebih tinggi. Penurunan pasokan ini memperparah tekanan pada margin keuntungan industri plastik.

“Kami melihat kenaikan biaya bahan baku sekitar 12 persen dalam dua minggu terakhir,” kata Budi Santoso, manajer operasional PT Kreasi Plastik. “Hal ini memaksa kami menyesuaikan harga jual agar tetap mempertahankan profitabilitas,” tambahnya.

Data pasar menunjukkan harga biji plastik naik antara 10 hingga 15 persen sejak awal April, sementara harga minyak dunia juga mengalami kenaikan tajam akibat ketegangan geopolitik. Peningkatan tersebut langsung diteruskan ke konsumen akhir.

Akibatnya, produk plastik sehari-hari seperti kantong belanja, botol air, dan bahan bangunan mengalami kenaikan harga yang dirasakan oleh konsumen rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Penyesuaian harga ini memperburuk beban biaya hidup masyarakat.

Harga minyak mentah Brent melampaui US$85 per barel pada akhir pekan lalu, mencerminkan ketidakpastian pasokan di pasar internasional. Kenaikan harga energi ini menambah tekanan pada biaya produksi seluruh sektor industri.

Industri lain yang bergantung pada bahan plastik, termasuk sektor kemasan makanan dan konstruksi, juga melaporkan peningkatan biaya. Produsen harus meninjau kembali strategi penetapan harga dan efisiensi operasional.

Bulan Harga NAFTA (USD/ton) Indeks Harga Plastik (IDR/kg)
Maret 720 12.500
April 840 14.300

Analisis dari konsultan energi, Rina Widyasari, menilai bahwa jika situasi di Selat Hormuz tidak segera mereda, volatilitas harga NAFTA akan tetap tinggi selama beberapa bulan ke depan. “Pasar akan terus mencari alternatif pelayaran, namun biaya tambahan tidak dapat dihindari,” ujarnya.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menyatakan akan memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan otoritas pelayaran untuk memastikan kelancaran impor bahan baku. Upaya diversifikasi sumber impor juga sedang dipertimbangkan.

Indonesia masih mengandalkan impor NAFTA sebesar 70 persen dari total kebutuhan nasional, dengan sebagian besar berasal dari Timur Tengah. Ketergantungan ini membuat negara rentan terhadap fluktuasi jalur pelayaran utama.

Jika ketegangan di Selat Hormuz berlanjut, proyeksi analis menunjukkan kemungkinan kenaikan harga plastik lebih dari 20 persen pada kuartal berikutnya, yang dapat menekan daya beli konsumen dan memperlambat pertumbuhan sektor manufaktur.

Secara keseluruhan, situasi geopolitik di Selat Hormuz kini menjadi faktor penting yang mempengaruhi stabilitas harga bahan baku plastik di Indonesia, menuntut respons cepat dari pemerintah dan pelaku industri untuk meminimalkan dampak ekonomi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.