Media Kampung – 11 April 2026 | Harga sembako di Kabupaten Rembang masih fluktuatif sejak awal Ramadhan, menambah beban hidup masyarakat.

Data pasar menunjukkan kenaikan rata‑rata 7‑10 persen pada beras, gula, dan minyak goreng dibanding minggu lalu.

Pedagang pasar tradisional mengaku margin keuntungan menurun karena harus menyesuaikan harga jual dengan pasokan yang tidak menentu.

‘Saya harus menaikkan harga tiap hari, padahal biaya beli barang juga naik’, kata Hadi, pedagang beras di Pasar Bulu.

Warga konsumen melaporkan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, terutama keluarga berpenghasilan rendah.

‘Uang gaji saya belum cukup untuk beli beras satu kilogram, apalagi sayur dan lauk’, ujar Siti, ibu rumah tangga di Kelurahan Sumber.

Pemerintah Kabupaten Rembang mengakui adanya ketidakstabilan harga dan menyatakan akan memonitor pasar secara intensif.

Sekretaris Dinas Perdagangan, Agus Santoso, menyebut bahwa penyebab utama fluktuasi adalah gangguan pasokan dari provinsi tetangga.

Faktor cuaca ekstrem di provinsi Jawa Tengah menyebabkan penurunan hasil panen padi, yang selanjutnya memengaruhi harga di pasar Rembang.

Selain itu, peningkatan tarif transportasi akibat kenaikan BBM menambah beban logistik bagi pedagang.

Dinas Perdagangan telah menyiapkan program subsidi beras bagi rumah tangga miskin selama bulan Ramadhan.

Program tersebut akan menyalurkan beras bersubsidi melalui posko distribusi di setiap kecamatan.

Namun, beberapa pedagang menganggap subsidi belum cukup menutupi selisih harga pasar yang terus naik.

‘Kami tetap harus menanggung selisih biaya, sehingga keuntungan kami berkurang drastis’, tambah Hadi.

Asosiasi Pedagang Pasar (APP) Rembang mengajukan permohonan kepada pemerintah provinsi untuk menstabilkan harga melalui penetapan harga eceran maksimum (HEM).

Pemerintah provinsi Jawa Tengah belum memberikan respons resmi, namun menjanjikan evaluasi kebijakan harga pangan nasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi makanan di Jawa Timur dan Jawa Tengah meningkat 3,2 persen pada kuartal pertama 2024.

Tren inflasi ini berdampak pada daya beli masyarakat di wilayah pesisir seperti Rembang.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kesejahteraan Rakyat menilai bahwa fluktuasi harga sembako dapat memperburuk kemiskinan struktural.

LSM tersebut mengusulkan pembentukan dana darurat pangan daerah untuk menanggulangi krisis harga di masa mendatang.

Sementara itu, konsumen beralih ke alternatif bahan pokok yang lebih murah, seperti singkong atau jagung, meski tidak selalu sesuai selera.

Penurunan konsumsi beras berpotensi menurunkan pendapatan petani lokal di wilayah sekitarnya.

Petani padi di Kabupaten Rembang melaporkan penurunan harga jual gabah di pasar tradisional sekitar 5 persen bulan lalu.

‘Kami kesulitan menjual gabah dengan harga yang menguntungkan, karena pembeli menunggu harga turun’, ujar Budi, anggota Koperasi Tani Rembang.

Pemerintah Kabupaten berencana mengadakan pasar tani mingguan dengan harga tetap untuk menstabilkan transaksi.

Inisiatif tersebut diharapkan dapat memotong rantai perantara yang biasanya meningkatkan harga akhir.

Analisis ekonom lokal menyarankan agar pemerintah meningkatkan stok pangan strategis di gudang daerah.

Penambahan stok beras nasional dapat menurunkan volatilitas harga pada periode permintaan puncak seperti Ramadhan.

Masyarakat Rembang diharapkan dapat berpartisipasi dalam program pengawasan harga yang diadakan oleh dinas terkait.

Harga sembako di Rembang masih belum stabil, menimbulkan keluhan pedagang dan warga, sementara upaya pemerintah dan lembaga terkait sedang dipercepat untuk menciptakan kestabilan pasar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.