Media Kampung – 11 April 2026 | Video terbaru dari CNBC Indonesia menyoroti dua isu sekaligus: perbedaan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia antara Asian Development Bank (ADB) dan Bank Dunia, serta kebijakan Iran yang mulai memungut tol pelayaran lewat Selat Hormuz menggunakan mata uang kripto Bitcoin.

ADB memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,5 % pada tahun 2024, didorong oleh peningkatan investasi infrastruktur dan konsumsi domestik yang kuat.

Sementara itu, Bank Dunia menurunkan ekspektasinya menjadi 4,8 % untuk periode yang sama, menekankan risiko inflasi global dan ketidakpastian pasar komoditas.

Perbedaan tersebut muncul karena ADB menilai reformasi fiskal pemerintah dan kebijakan stimulus moneter cukup efektif, sedangkan Bank Dunia lebih menekankan pada tekanan eksternal seperti kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.

“Kesenjangan proyeksi mencerminkan asumsi yang sangat berbeda tentang dinamika permintaan global dan kebijakan domestik,” kata Dr. Rina Suryani, ekonom senior di Lembaga Penelitian Ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, Iran mengumumkan penerapan sistem tol berbasis Bitcoin untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz, dengan tarif 0,02 BTC per ton muatan, sebagai upaya mengalihkan pendapatan dari sanksi ekonomi Barat.

Langkah tersebut dipandang sebagai strategi Iran memanfaatkan aset kripto untuk menghindari pembekuan dana tradisional dan menjaga aliran pendapatan penting dari jalur laut strategis.

Para pelaku industri perkapalan kini harus menyesuaikan perhitungan biaya operasional, mengingat volatilitas nilai Bitcoin dapat memengaruhi total pembayaran tol harian.

Kebijakan Iran sekaligus menambah dimensi baru dalam diskusi global tentang adopsi mata uang digital di sektor transportasi laut, sementara proyeksi ekonomi Indonesia menyoroti ketidakpastian yang masih menggelayuti pasar Asia Tenggara.

Pengamat internasional mencatat bahwa kebijakan kripto Iran dapat menimbulkan respon regulasi lebih ketat dari negara-negara Barat, yang khawatir akan penyalahgunaan aset digital untuk menghindari sanksi.

Di Indonesia, perbedaan proyeksi menuntut pemerintah memperkuat kebijakan fiskal dan menjaga stabilitas moneter agar tidak terpengaruh oleh fluktuasi eksternal yang semakin intens.

Secara keseluruhan, video tersebut menggambarkan bagaimana dinamika ekonomi makro dan inovasi keuangan digital saling bersinggungan, menuntut respons kebijakan yang adaptif di tingkat nasional dan internasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.