Media Kampung – 11 April 2026 | Presiden Kongres Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengingatkan adanya risiko gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri padat karya. Ia menekankan perlunya kesiapsiagaan tiga bulan bagi perusahaan dan pekerja.

Peringatan tersebut muncul di tengah tekanan eksternal seperti perlambatan permintaan global dan kenaikan biaya produksi yang signifikan. Kondisi ini dapat memaksa perusahaan menyesuaikan struktur tenaga kerja untuk menjaga kelangsungan operasional.

Said Iqbal menambahkan bahwa faktor biaya energi, bahan baku, dan logistik telah meningkat secara tajam selama setahun terakhir. Kenaikan tersebut menurunkan margin keuntungan terutama bagi industri yang bergantung pada volume produksi tinggi.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, KSPI mengusulkan program pemantauan intensif selama tiga bulan ke depan. Program ini mencakup dialog rutin antara serikat pekerja, manajemen, dan pemerintah terkait kebijakan penyesuaian upah serta dukungan fiskal.

Dalam pertemuan dengan perwakilan asosiasi pengusaha, Said Iqbal menekankan bahwa PHK massal dapat menimbulkan efek domino pada konsumsi domestik. Penurunan daya beli masyarakat berpotensi memperburuk penurunan permintaan barang manufaktur.

Ia juga menyoroti bahwa sektor industri padat karya, seperti tekstil, makanan dan minuman, serta barang konstruksi, menyerap jutaan tenaga kerja di seluruh Indonesia. Pengurangan tenaga kerja di sektor ini akan berdampak pada tingkat pengangguran nasional.

Pemerintah dipanggil untuk menyediakan instrumen kebijakan yang dapat meredam tekanan biaya, termasuk subsidi energi dan insentif pajak bagi perusahaan yang menahan karyawan. KSPI menunggu respons konkret dalam rapat koordinasi lintas kementerian.

Analisis ekonomi terbaru menunjukkan bahwa inflasi biaya produksi telah melampaui 12 persen tahun ini, sementara pertumbuhan PDB diproyeksikan melambat menjadi 4,5 persen. Data ini memperkuat kekhawatiran tentang kemungkinan restrukturisasi tenaga kerja.

Sebagai langkah preventif, beberapa perusahaan besar telah mengumumkan program penyesuaian jam kerja fleksibel dan pelatihan ulang (re‑skilling) bagi karyawan. Upaya tersebut diharapkan dapat menurunkan kebutuhan PHK sekaligus meningkatkan kompetensi pekerja.

Said Iqbal menegaskan bahwa dialog sosial yang konstruktif menjadi kunci menghindari PHK massal. “Jika semua pihak bersedia berkomitmen pada solusi bersama, dampak negatif dapat diminimalkan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Mengingat besarnya kontribusi industri padat karya terhadap PDB, para analis menilai bahwa kebijakan penanggulangan harus bersifat holistik. Langkah-langkah yang mencakup kebijakan moneter, fiskal, serta pelatihan tenaga kerja dianggap paling efektif.

Dengan tiga bulan ke depan menjadi periode kritis, KSPI meminta semua pemangku kepentingan untuk mempercepat implementasi kebijakan yang mendukung stabilitas kerja. Penutupnya menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan pekerja.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.