Media Kampung – 09 April 2026 | Harga plastik di Kabupaten Rembang melambung hampir sembilan puluh persen dalam beberapa bulan terakhir, memicu keluhan keras dari para pedagang yang mengandalkan bahan tersebut untuk usaha sehari-hari.

Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, termasuk kenaikan harga minyak dunia serta gangguan pada rantai pasokan global yang mengurangi ketersediaan bahan baku.

Para penjual barang kebutuhan rumah tangga melaporkan peningkatan biaya pembelian plastik hingga dua kali lipat, yang secara langsung menurunkan margin keuntungan mereka.

Seorang pedagang pasar tradisional di Rembang menyatakan, “Modal kami hampir habis karena harus membayar plastik lebih mahal, sementara penjualan tidak meningkat karena konsumen menahan pengeluaran.”

Penurunan daya beli konsumen menjadi faktor tambahan yang memperparah situasi, karena harga barang jadi turut naik mengikuti biaya bahan baku.

Data dari Asosiasi Pedagang Ritel menunjukkan bahwa penurunan transaksi harian rata-rata mencapai 15 persen sejak awal kenaikan harga plastik.

Pemerintah daerah telah merespon dengan menyiapkan program subsidi plastik bagi pelaku usaha kecil, namun pelaksanaan masih dalam tahap perencanaan.

Pengamat ekonomi daerah menilai, jika tekanan harga tidak diredam, risiko kebangkrutan bagi usaha mikro dan kecil akan meningkat secara signifikan.

Secara nasional, inflasi bahan konsumsi juga menunjukkan tren naik, mencerminkan dampak luas dari fluktuasi harga energi dan logistik.

Para ahli memperkirakan bahwa jika harga minyak mentah tetap tinggi, kenaikan harga plastik dapat berlanjut hingga akhir tahun.

Di sisi lain, produsen plastik lokal berusaha menyesuaikan produksi dengan mengoptimalkan proses daur ulang guna mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.

Dengan kondisi pasar yang masih belum stabil, pedagang di Rembang berharap kebijakan dukungan segera diterapkan untuk menstabilkan biaya operasional dan melindungi konsumen.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.