Media Kampung – 09 April 2026 | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa proses penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non‑subsidi masih berada pada tahap perhitungan.

Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut belum final dan akan disesuaikan dengan dinamika pasar serta kebutuhan fiskal negara.

Bahlil menambahkan harapannya agar harga International Crude Price (ICP) dapat turun, yang dianggapnya akan memberikan manfaat bagi konsumen dan anggaran negara.

“Kami berharap harga ICP dapat turun untuk kepentingan bersama,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta.

Penyesuaian harga BBM non‑subsidi menjadi sorotan karena subsidi energi selama ini menimbulkan beban anggaran yang signifikan.

Pemerintah telah mengumumkan strategi pengurangan subsidi secara bertahap sejak awal 2023, dengan tujuan meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Langkah tersebut diharapkan dapat mengalihkan anggaran subsidi ke sektor lain yang lebih produktif, seperti infrastruktur dan pendidikan.

Namun, perubahan harga BBM non‑subsidi harus mempertimbangkan kemampuan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah.

Analisis dari beberapa lembaga riset ekonomi menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM dapat meningkatkan inflasi makanan dan transportasi secara signifikan.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Kementerian ESDM tengah menyusun skema penyesuaian yang bersifat bertahap dan terukur.

Skema ini mencakup mekanisme penyesuaian harga yang mengacu pada perubahan harga minyak mentah dunia serta nilai tukar rupiah.

Selain itu, kementerian berkoordinasi dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk memastikan pasokan tetap stabil.

Stabilitas pasokan menjadi prioritas mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah sebesar lebih dari 70 persen kebutuhan domestik.

Pemerintah juga berupaya meningkatkan cadangan minyak strategis sebagai penyangga terhadap fluktuasi harga global.

Dalam jangka panjang, Bahlil menekankan pentingnya diversifikasi energi, termasuk pengembangan energi terbarukan, untuk mengurangi ketergantungan pada minyak.

Target pemerintah adalah mencapai 23 persen bauran energi terbarukan pada 2025, sesuai dengan komitmen dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Jika harga ICP memang menurun, pemerintah dapat menunda atau mengurangi penyesuaian harga BBM non‑subsidi, sehingga tekanan inflasi dapat ditekan.

Namun, Bahlil mengingatkan bahwa keputusan final tetap bergantung pada evaluasi menyeluruh yang melibatkan kementerian keuangan, perbankan sentral, dan stakeholder industri.

Ia juga menegaskan bahwa transparansi dalam proses penetapan harga akan menjadi prinsip utama.

Langkah transparan diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik serta mengurangi potensi spekulasi pasar.

Sejumlah asosiasi pengusaha transportasi menanggapi pernyataan Bahlil dengan harapan adanya kebijakan yang adil dan tidak memberatkan operasional mereka.

Mereka menekankan bahwa penyesuaian harga harus disertai dengan mekanisme dukungan bagi sektor transportasi publik.

Di sisi lain, konsumen rumah tangga mengharapkan harga BBM yang stabil agar beban biaya hidup tidak meningkat secara tajam.

Kementerian ESDM berjanji akan terus memantau perkembangan pasar minyak dunia dan menyesuaikan kebijakan secara dinamis.

Dengan demikian, pemerintah berharap dapat menyeimbangkan antara kebutuhan fiskal, kestabilan harga, dan kesejahteraan masyarakat.

Penyesuaian harga BBM non‑subsidi masih berada pada proses perhitungan yang cermat, dan keputusan akhir akan diumumkan setelah semua faktor dipertimbangkan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.