Media Kampung – 08 April 2026 | Harga kemasan plastik di Indonesia mengalami lonjakan tajam sejak Ramadan, dengan beberapa wilayah mencatat kenaikan hingga seratus persen akibat gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah.

Di Jakarta Barat, pemilik Toko Wijaya Plastik melaporkan kenaikan bertahap mulai 20 persen pada bulan puasa, kemudian 30 persen, dan kini melampaui lima puluh persen.

Thinwall 1.000 ml naik dari Rp35.000 menjadi Rp45.000 per 25 buah, sedotan 100 butir naik dari Rp10.000 menjadi Rp14.000, dan plastik PE bening 250 gram melambung dari Rp10.000 menjadi Rp15.000.

Di toko lain di Palmerah, kantong plastik Loco ukuran 35×55 cm naik dari Rp14.000 menjadi Rp16.000, sementara versi putih 17×55 cm naik dari Rp17.000 menjadi Rp20.000.

Pedagang menerima protes konsumen, namun Suhersih menegaskan bahwa kenaikan berasal dari distributor yang terdampak konflik di Timur Tengah sehingga bahan baku tidak dapat masuk Indonesia.

Candra, karyawan Toko Harun, menambahkan bahwa kenaikan serupa diperkirakan akan menyentuh kemasan sachet minuman bubuk, meski belum ada kepastian waktu.

Di Ternate, Maluku Utara, harga plastik naik 60–65 persen, dari Rp7.000 menjadi Rp13.000 per kemasan, menyebabkan pedagang es jeruk Suwadi mengaku terbebani dan enggan menaikkan harga jual.

Suwardi mencoba mengganti kresek dengan gelas yang lebih murah, tetapi ia menyatakan bahwa tidak semua produk makanan dapat menggunakan alternatif tersebut karena kebutuhan tahan panas.

Di Semarang, pemilik Toko Plastik Glory melaporkan kenaikan seratus persen pada kotak makanan 1.000 ml (Rp30.000 menjadi Rp50.000), gelas 10–16 ml (Rp9.000 menjadi Rp15.000), serta botol plastik (Rp800 menjadi Rp1.500).

Para pelanggan UMKM di Semarang menolak berbelanja setelah mendengar lonjakan harga, mengingat margin usaha mereka terancam.

Disperindag Jawa Tengah mengonfirmasi harga bahan baku plastik naik hingga tiga ratus persen, dan menjelaskan bahwa impor terhambat oleh perang, sementara bioplastik berbasis pati singkong masih 1,5–2 kali lebih mahal.

Pemerintah daerah menyerukan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan mempromosikan tas belanja sendiri sebagai langkah mitigasi.

Secara keseluruhan, kenaikan harga bahan baku plastik menambah beban pada pedagang dan konsumen, memaksa pelaku usaha mencari alternatif dan menunggu stabilisasi pasokan di tengah ketegangan geopolitik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.