Media Kampung – 07 April 2026 | Dolar Amerika Serikat menguat hingga menembus level Rp17.000 per dolar, dengan kurs resmi tercatat Rp17.090 pada sesi perdagangan hari ini, kata Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.
Airlangga menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan fenomena tunggal; sejumlah mata uang utama juga mengalami tekanan nilai terhadap dolar.
Data pasar menunjukkan euro, pound sterling, dan yen Jepang mengalami depresiasi serupa dalam beberapa hari terakhir, sejalan dengan kebijakan moneter Federal Reserve yang semakin ketat.
Penurunan nilai tukar dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga AS serta data inflasi yang tetap tinggi, memperkuat permintaan dolar global.
Dampak langsung terasa pada harga barang impor, terutama bahan baku industri dan kebutuhan konsumen, yang dapat memicu kenaikan inflasi domestik.
Pemerintah memantau situasi lewat Bank Indonesia, yang mencatat likuiditas masih memadai namun siap menyiapkan langkah stabilisasi bila diperlukan.
Airlangga menambahkan bahwa bank sentral telah melakukan intervensi pasar pada beberapa kesempatan, namun tidak dapat menahan pergerakan global secara keseluruhan.
Sektor ekspor diperkirakan akan memperoleh manfaat dari rupiah yang lebih lemah, khususnya komoditas seperti kelapa sawit, batu bara, dan karet.
Di sisi lain, sektor yang bergantung pada impor energi dan bahan baku kritis akan menghadapi tekanan biaya yang meningkat.
Analisis ekonomi mencatat defisit transaksi berjalan yang masih tinggi, menambah beban pada nilai tukar dan memperlemah posisi neraca pembayaran.
Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas melalui kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi, serta memperkuat cadangan devisa sebagai penyangga.
Meski nilai tukar berada di level historis, otoritas optimis bahwa langkah-langkah yang diambil dapat meredam volatilitas dan melindungi daya beli masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan