Media Kampung – 07 April 2026 | Mendekati masa pensiun, banyak pekerja di Indonesia mengkhawatirkan kelancaran finansial serta keberlanjutan rezeki setelah berhenti bekerja. Pemerintah dan lembaga keagamaan menekankan pentingnya kombinasi usaha konkret dan doa sebagai upaya mengurangi kecemasan tersebut.
Umat Muslim umumnya memanfaatkan doa sebagai sarana penyerahan diri kepada Allah sambil tetap berikhtiar dalam mencari nafkah. Doa yang disarankan menjelang pensiun mencakup permohonan kelancaran, keberkahan, serta keluasannya rezeki di masa tua.
Ustadz Ahmad Rizal, pembicara di Lembaga Kajian Islam, menegaskan bahwa doa bukan sekadar ritual, melainkan bentuk keyakinan bahwa usaha manusia tetap berada di bawah kendali Ilahi. Ia menambahkan, ‘Dengan tawakal, seseorang tetap berusaha, namun hati tetap tenang karena mempercayakan hasil kepada Allah.’
Doa yang dianjurkan meliputi bacaan Surat Al-Fajr, ayat-ayat dari Surah Al-Qasas, serta istighfar yang diulang tiga puluh kali sebelum tidur. Ritme pengulangan tersebut diyakini dapat menumbuhkan rasa syukur serta membuka pintu rezeki yang lebih luas.
Praktik ikhtiar meliputi menambah tabungan pensiun, mengalokasikan investasi pada reksa dana syariah, serta mempelajari keterampilan baru yang dapat menjadi sumber penghasilan pasca kerja. Pakar keuangan, Rina Suryani, menyarankan alokasi minimal 15 persen pendapatan bulanan untuk dana pensiun agar tercapai target yang realistis.
Masyarakat yang menggabungkan doa dengan perencanaan keuangan cenderung melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi pada usia lanjut. Studi psikologis yang dilakukan oleh Universitas Indonesia menemukan korelasi positif antara praktik spiritual rutin dan persepsi keamanan finansial.
Selain doa pribadi, banyak komunitas masjid mengadakan kegiatan zikir bersama menjelang masa pensiun anggotanya. Acara tersebut tidak hanya memperkuat ikatan sosial, tetapi juga menjadi forum berbagi informasi tentang asuransi kesehatan dan program pensiun pemerintah.
Pemerintah Kementerian Ketenagakerjaan mengingatkan pekerja untuk memanfaatkan program Jaminan Pensiun Nasional (JPN) yang menyediakan manfaat pensiun berbasis kontribusi. Penggunaan JPN bersamaan dengan doa diyakini dapat menambah rasa aman, karena manfaatnya didukung oleh regulasi negara.
Namun, tidak semua tenaga kerja memiliki akses mudah ke fasilitas keuangan formal, terutama di daerah terpencil. Oleh karena itu, lembaga keagamaan berperan penting dalam menyebarluaskan literasi keuangan melalui kelas-kelas keagamaan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan manajemen keuangan.
Dengan menggabungkan ikhtiar ekonomi, tawakal, dan doa, harapan masyarakat Indonesia terhadap kelancaran dan keluasannya rezeki di masa pensiun semakin realistis. Pendekatan holistik ini diharapkan dapat mengurangi beban psikologis serta meningkatkan kualitas hidup pada usia senja.
Sebagai penutup, para ahli menekankan bahwa persiapan pensiun bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga tugas kolektif antara keluarga, institusi keagamaan, dan pemerintah. Keterpaduan upaya tersebut menjadi landasan kuat bagi warga Indonesia untuk menapaki masa pensiun dengan keyakinan dan ketenangan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan