Media Kampung – 06 April 2026 | Pasar Kramat Jati mencatat lonjakan harga plastik yang signifikan selama beberapa minggu terakhir.

Stok plastik di pasar tersebut juga menjadi terbatas, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha.

Pedagang bahan baku plastik, Budi Santoso, mengonfirmasi bahwa harga HDPE dan PP kini hampir dua kali lipat dibandingkan bulan lalu.

Ia menambahkan bahwa permintaan konsumen industri kemasan dan konstruksi tetap tinggi, sementara pasokan menurun.

Penyebab utama kelangkaan, menurut Budi, adalah penurunan produksi pabrik di wilayah Jawa Barat akibat pemeliharaan tak terduga.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia meningkatkan biaya produksi bahan baku plastik secara keseluruhan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa indeks harga produsen (IHP) bahan kimia naik 12% pada kuartal pertama 2024.

Kenaikan biaya produksi ini langsung diteruskan ke harga jual di pasar tradisional.

Pemerintah daerah Surabaya mengakui adanya gangguan rantai pasokan, namun belum mengumumkan kebijakan penanggulangan khusus.

Sejumlah pengecer di Pasar Kramat Jati melaporkan penurunan volume penjualan karena konsumen menunda pembelian plastik.

Akibatnya, pedagang kecil mengalami tekanan margin yang signifikan.

Beberapa pelaku usaha beralih ke alternatif bahan baku seperti bambu atau bahan komposit untuk mengurangi ketergantungan pada plastik.

Namun, alternatif tersebut belum dapat memenuhi standar kekuatan dan fleksibilitas yang dibutuhkan oleh industri.

Pengamat pasar, Dr. Siti Rahmawati, menyatakan bahwa fenomena ini mencerminkan ketidakseimbangan antara permintaan domestik dan kapasitas produksi nasional.

Ia menekankan perlunya peningkatan kapasitas daur ulang sebagai solusi jangka panjang.

Rendahnya tingkat daur ulang memperparah tekanan pada sumber bahan baku primer.

Beberapa perusahaan besar mulai berinvestasi dalam fasilitas daur ulang di wilayah Jawa Timur, namun hasilnya belum cukup untuk menstabilkan pasar.

Pedagang Budi berharap kebijakan insentif bagi industri daur ulang dapat segera diimplementasikan.

Ia menambahkan bahwa tanpa intervensi pemerintah, harga plastik diprediksi akan terus naik dalam jangka pendek.

Pengguna akhir, seperti produsen wadah makanan, melaporkan kenaikan biaya produksi yang dapat memengaruhi harga jual produk akhir.

Para konsumen akhir, terutama usaha kecil menengah, mengaku harus menyesuaikan strategi harga untuk tetap kompetitif.

Pengamat ekonomi, Ahmad Fauzi, menilai bahwa inflasi sektor industri dapat menambah beban pada indeks harga konsumen secara keseluruhan.

Ia mencatat bahwa kenaikan harga plastik berpotensi memicu tekanan inflasi pada barang-barang kebutuhan rumah tangga.

Pemerintah pusat telah menyiapkan paket stimulus untuk sektor manufaktur, namun belum ada alokasi khusus untuk bahan baku plastik.

Beberapa asosiasi industri mengajukan permohonan dialog intensif dengan regulator guna mencari solusi bersama.

Di sisi lain, konsumen yang sadar lingkungan mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sebagai respons terhadap kenaikan harga.

Tren ini berpotensi mempercepat pergeseran ke bahan ramah lingkungan jika didukung kebijakan yang tepat.

Secara keseluruhan, pasar plastik di Pasar Kramat Jati berada pada titik kritis, menuntut koordinasi antara produsen, pedagang, dan pemerintah.

Kondisi ini diharapkan dapat diatasi melalui peningkatan kapasitas produksi, insentif daur ulang, dan kebijakan penstabil harga jangka menengah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.