Media Kampung – 05 April 2026 | Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog), Budi Santoso, menyampaikan bahwa target penyerapan empat juta ton beras pada tahun 2026 tetap realistis dan dapat dicapai dengan dukungan kebijakan pemerintah serta peningkatan efisiensi operasional.

Dalam pertemuan internal Bulog, Budi menegaskan perlunya sinergi antara lembaga logistik dan produsen beras untuk mengoptimalkan rantai pasok nasional.

Selain itu, Budi mengumumkan perubahan struktural pada manajemen Gendhis Multi Manis, anak perusahaan Bulog yang mengelola distribusi beras di wilayah Jawa Timur.

Perubahan tersebut mencakup penunjukan manajer baru, peningkatan sistem informasi, dan penyesuaian strategi pemasaran.

Manajer baru, Siti Rahmawati, yang sebelumnya memimpin divisi logistik regional, diharapkan membawa pendekatan berbasis data dalam pengelolaan stok dan distribusi.

Ia menyatakan, “Kami akan fokus pada akurasi prediksi permintaan dan pengurangan waktu pengiriman untuk memastikan beras sampai tepat waktu ke konsumen.”

Direksi Bulog menambahkan bahwa reformasi manajemen Gendhis Multi Manis sejalan dengan upaya nasional mengurangi ketergantungan pada impor beras.

Langkah ini diharapkan meningkatkan kemandirian pangan serta menurunkan volatilitas harga di pasar domestik.

Penguatan sistem informasi mencakup integrasi platform digital yang dapat memantau persediaan secara real time di setiap gudang.

Fitur tersebut memungkinkan pihak terkait mengidentifikasi surplus atau defisit stok dengan cepat.

Pihak Bulog juga menyiapkan pelatihan bagi staf Gendhis Multi Manis agar mampu memanfaatkan teknologi baru secara optimal.

Pelatihan tersebut akan meliputi analisis data, manajemen rantai pasok, dan layanan pelanggan.

Menurut data internal, Gendhis Multi Manis mencatat peningkatan distribusi sebesar 12% pada triwulan pertama 2024 setelah implementasi sistem awal.

Angka tersebut menunjukkan potensi pertumbuhan lebih besar bila manajemen baru dapat memperluas jaringan distributor.

Kondisi pasar beras domestik saat ini menunjukkan permintaan stabil dengan fluktuasi harga yang relatif terkendali.

Namun, faktor iklim dan kebijakan impor tetap menjadi variabel yang harus diwaspadai.

Bulog berkomitmen untuk terus memantau faktor-faktor eksternal tersebut dan menyesuaikan strategi penyerapan beras secara dinamis.

Dengan target empat juta ton, Bulog menargetkan peningkatan kapasitas penyimpanan sebesar 15% melalui pembangunan fasilitas baru di wilayah strategis.

Fasilitas tersebut direncanakan selesai pada akhir 2025, menjelang puncak musim tanam.

Secara keseluruhan, langkah perubahan manajemen Gendhis Multi Manis diharapkan memperkuat posisi Bulog dalam mengendalikan pasokan beras nasional.

Keberhasilan target penyerapan beras 2026 akan menjadi indikator utama kinerja kebijakan ketahanan pangan pemerintah.

Dengan koordinasi lintas lembaga dan inovasi manajerial, Bulog menegaskan kesiapan menghadapi tantangan pasar beras ke depan.

Situasi ini menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan publik, teknologi, dan kepemimpinan yang adaptif dalam menjaga stabilitas pangan negara.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.