Media Kampung – 05 April 2026 | Data Satgas RAFI Pertamina menunjukkan bahwa konsumsi bahan bakar minyak selama periode Lebaran 2026 meningkat secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan lonjakan mobilitas masyarakat dalam arus mudik dan balik. Kenaikan ini terjadi pada hampir semua jenis BBM, menandai pemulihan aktivitas ekonomi pasca pandemi.

Solar menjadi komoditas dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 47.259 kiloliter per hari, naik 22,1 persen dari realisasi Lebaran 2025 yang tercatat 38.691 KL. Lonjakan ini mengindikasikan tingginya penggunaan kendaraan niaga dan pribadi yang mengandalkan mesin diesel selama libur panjang.

Bensin juga mengalami peningkatan, tercatat 111.367 KL per hari, meningkat 7,1 persen dibandingkan 103.971 KL pada Lebaran 2025. Pertumbuhan tersebut menguatkan dominasi kendaraan pribadi dalam pola perjalanan selama Ramadan dan Idul Fitri.

Permintaan LPG naik 11,5 persen menjadi 33.603 metrik ton per hari, sementara avtur meningkat 7,7 persen menjadi 13.419 KL per hari. Kenaikan avtur sejalan dengan peningkatan penerbangan domestik yang kembali aktif menjelang dan sesudah hari raya.

Konsumsi minyak tanah (kerosene) juga naik tipis 5,3 persen menjadi 1.378 KL per hari. Secara keseluruhan, semua segmen BBM menunjukkan tren positif, menandakan peningkatan mobilitas dan aktivitas logistik di seluruh wilayah Indonesia.

Para analis menilai bahwa pola peningkatan konsumsi BBM ini mencerminkan pemulihan sektor transportasi, logistik, serta permintaan energi rumah tangga yang sempat tertekan selama masa pembatasan sosial. Lonjakan tersebut diperkirakan akan berlanjut selama musim mudik berikutnya.

Pakar otomotif Yannes Martinus Pasaribu dari Institut Teknologi Bandung mengingatkan bahwa kenaikan harga energi global dapat menambah tekanan pada harga BBM domestik. Ia menyatakan, “Jika harga Brent tetap di atas 120‑130 dolar per barel dalam jangka panjang, pemerintah dipaksa menyesuaikan tarif BBM demi menjaga keseimbangan fiskal.”

Menurut Pasaribu, beban subsidi energi yang terus meningkat dapat menyerap ratusan triliun rupiah dari APBN, mengurangi ruang anggaran untuk sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan kesehatan fiskal negara.

Pakarnya memperkirakan penyesuaian tarif BBM mungkin baru dipertimbangkan pada Mei‑Juni 2026, dengan pendekatan bertahap untuk menghindari shock harga di pasar. Kebijakan tersebut diharapkan diiringi dengan upaya mitigasi melalui percepatan transisi energi bersih.

Transisi energi mencakup pengembangan kendaraan listrik dan hybrid, serta optimalisasi sumber energi domestik seperti biofuel dan gas bumi. Langkah ini dianggap krusial untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan menstabilkan harga BBM dalam jangka panjang.

Penguatan sektor transportasi dan logistik yang bergantung pada BBM tetap menjadi prioritas, namun pemerintah juga berupaya memperluas infrastruktur pendukung kendaraan listrik, termasuk jaringan pengisian daya publik di wilayah strategis.

Secara keseluruhan, peningkatan konsumsi BBM pada Lebaran 2026 menegaskan kembali pentingnya keseimbangan antara penyediaan energi yang cukup, kontrol harga, dan upaya transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.