Media Kampung – 05 April 2026 | Apindo mengajukan rangkaian kebijakan untuk mengatasi tantangan ekonomi global yang semakin kompleks. Kebijakan tersebut menyeimbangkan aspek penawaran dan permintaan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, menyampaikan usulan itu dalam konferensi Economic Outlook 2026 di Jakarta. Ia menekankan perlunya langkah terkoordinasi antara pemerintah dan dunia usaha.

Dari sisi penawaran, Apindo menuntut kebijakan yang dapat menahan biaya produksi agar tetap terkendali. Stabilitas arus kas dan kepastian usaha menjadi prioritas utama.

Kebijakan harga energi diharapkan dapat dijaga agar tidak memicu inflasi biaya produksi. Pemerintah diminta memastikan pasokan energi terjangkau dan dapat diprediksi.

Di bidang logistik, Apindo mengusulkan perbaikan infrastruktur dan simplifikasi prosedur. Hal ini bertujuan memperlancar rantai pasok domestik.

Sisi permintaan ditargetkan melalui penguatan daya beli masyarakat. Stimulus terarah kepada sektor konsumen dipandang krusial untuk menstimulasi konsumsi.

Shinta menambahkan bahwa kebijakan fiskal harus bersifat adaptif dan terukur. Setiap langkah harus didasarkan pada pemetaan sektor secara detail.

Komunikasi yang jelas antara pemerintah dan pelaku usaha dianggap kunci keberhasilan implementasi. Dialog terbuka dapat mengurangi ketidakpastian regulasi.

Dalam jangka pendek, fokus utama pemerintah adalah menjaga stabilitas makroekonomi. Hal ini mencakup pengendalian harga energi, nilai tukar, dan inflasi.

Pemerintah diminta menahan transmisi guncangan global ke dalam ekonomi domestik. Kebijakan tersebut harus mampu menyerap dampak geopolitik yang memengaruhi pasar.

Apindo menyoroti pentingnya dukungan likuiditas bagi industri padat karya. Kredit yang mudah diakses dapat memperkuat produktivitas.

Deregulasi pada sektor tertentu diharapkan menurunkan beban administratif. Pengurangan biaya operasional dapat meningkatkan kompetitivitas.

Pengurangan “high cost economy” menjadi agenda strategis. Pemerintah diharapkan mengidentifikasi dan mengeliminasi faktor biaya tinggi yang menghambat pertumbuhan.

Pada periode menengah hingga panjang, Apindo menekankan percepatan ketahanan energi nasional. Diversifikasi energi dan investasi pada sumber terbarukan dipandang vital.

Penguatan energi alternatif diharapkan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar. Infrastruktur energi terbarukan harus dikembangkan secara bertahap.

Reformasi subsidi energi harus dilakukan secara bertahap dan terukur. Langkah ini harus tetap memperhatikan daya beli konsumen.

Apindo mengusulkan penyesuaian bauran energi dengan kesiapan infrastruktur. Kebijakan tersebut akan meningkatkan daya saing industri lokal.

Penguatan sektor hulu domestik menjadi prioritas untuk mengurangi impor bahan baku. Investasi pada produksi dalam negeri diharapkan menambah nilai tambah.

Strategi struktural termasuk peningkatan efisiensi logistik. Pengurangan biaya transportasi dapat menurunkan harga barang akhir.

Shinta menegaskan semangat “Indonesia Incorporated” relevan dalam menghadapi tekanan global. Kolaborasi lintas sektor menjadi landasan kebijakan kolektif.

Ia menekankan pentingnya ruang dialog yang konstruktif antara pemerintah dan pelaku usaha. Masukan dari lapangan dapat memperbaiki rancangan kebijakan.

Menurut Shinta, kebijakan yang dihasilkan harus implementatif dan tepat sasaran. Hindari disrupsi pada produksi, distribusi, atau pelayanan publik.

Apindo juga menyoroti perlunya adaptasi kerja fleksibel (WFH) yang terukur. Kebijakan tersebut harus mempertimbangkan produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja.

Selain itu, Apindo mengingatkan pentingnya kebijakan BBM subsidi yang jelas teknisnya. Implementasi harus transparan untuk menghindari kebingungan.

Pemerintah diharapkan mengintegrasikan kebijakan energi, logistik, dan konsumsi dalam satu kerangka terpadu. Sinergi antar kementerian menjadi faktor penentu.

Apindo percaya bahwa kebijakan berbasiskan data dapat meningkatkan efektivitas. Penggunaan teknologi informasi untuk pemantauan menjadi rekomendasi.

Dengan kebijakan yang seimbang antara supply dan demand, ekonomi Indonesia dapat lebih tahan terhadap gejolak eksternal. Stabilitas harga dan pasokan menjadi penopang utama.

Shinta menutup dengan harapan pemerintah akan menindaklanjuti usulan secara cepat. Dunia usaha siap memberikan dukungan penuh bila kebijakan bersifat inklusif.

Apindo mengingatkan bahwa tantangan global akan terus berubah. Respons yang cepat dan terukur menjadi kunci kelangsungan pertumbuhan.

Artikel ini mencerminkan komitmen Apindo untuk berperan aktif dalam merumuskan kebijakan nasional. Kebijakan yang tepat diharapkan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.