Media Kampung – 05 April 2026 | Jumat, 4 April 2026, Ustadz Ahmad Fauzi menyoroti krisis bahan bakar yang dipicu penutupan Selat Hormuz oleh mayoritas negara dunia.

Penutupan tersebut menurunkan pasokan minyak mentah, memaksa harga bensin dan solar naik signifikan di pasar domestik.

Lonjakan harga menimbulkan kelangkaan bahan bakar di SPBU, memicu kepanikan warga yang berbondong-bondong membeli dalam jumlah besar.

Fenomena panic buying muncul karena kekhawatiran suplai akan semakin menipis, sehingga konsumen menimbun bahan bakar serta barang kebutuhan pokok.

Ustadz Fauzi mengingatkan bahwa tindakan menimbun melanggar prinsip keadilan ekonomi dalam Islam.

Ia mengutip ayat Al‑Qur’an yang menekankan larangan berlebih-lebihan dan menimbun barang yang dapat menimbulkan kelaparan bagi orang lain.

“Rasulullah SAW melarang hoarding karena dapat menimbulkan kesengsaraan,” ujarnya dalam khutbah.

Ustadz menegaskan bahwa umat Islam wajib berperilaku bertanggung jawab, mengutamakan kebutuhan keluarga, bukan kepentingan pribadi semata.

Ia menambah, pemerintah dan lembaga terkait harus memastikan distribusi bahan bakar yang adil serta mengawasi praktik spekulasi.

Kepala Dinas Energi Provinsi Jawa Timur, Budi Santoso, menyatakan bahwa pemerintah tengah menyiapkan kebijakan subsidi sementara.

Ia menegaskan upaya diversifikasi sumber energi sebagai solusi jangka panjang mengurangi ketergantungan pada jalur laut.

Namun, dalam jangka pendek, kontrol harga dan pembatasan pembelian menjadi langkah penting untuk mengekang panic buying.

Ustadz Fauzi menekankan nilai solidaritas dalam Islam, mengajak masyarakat untuk saling membantu tanpa mengamuk membeli secara berlebihan.

“Kita harus ingat, Allah menilai niat dan tindakan kita dalam mengelola harta,” tuturnya.

Para ulama lain yang hadir dalam acara tersebut menambahkan bahwa zakat dan infak dapat membantu mengurangi beban ekonomi masyarakat terdampak.

Pengumpulan dana zakat diyakini dapat menyalurkan bantuan kepada keluarga yang paling membutuhkan bahan bakar dan kebutuhan pokok.

Pak Jokowi, Presiden RI, dalam pernyataan resmi, menyatakan komitmen menjaga kestabilan harga BBM serta mengantisipasi dampak geopolitik.

Ia menambahkan bahwa pemerintah akan memperkuat kerjasama dengan negara produsen energi lain untuk mengamankan pasokan.

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Rina Hidayat, menilai krisis BBM dapat memicu inflasi jika tidak dikelola dengan tepat.

Ia menyarankan kebijakan moneter yang hati-hati serta koordinasi lintas sektor untuk menahan tekanan harga.

Sementara itu, asosiasi pedagang mengakui adanya peningkatan penjualan bensin, namun menolak tuduhan spekulasi.

Mereka menegaskan bahwa penjualan masih mengikuti permintaan pasar yang meningkat karena penutupan jalur transportasi.

Ustadz Fauzi menutup khutbah dengan mengajak jamaah menahan diri dari tindakan berlebihan serta memperbanyak doa untuk kelancaran distribusi BBM.

Ia mengingatkan bahwa setiap tindakan ekonomi harus selaras dengan nilai keadilan, kesejahteraan, dan kepedulian sosial dalam Islam.

Khutbah ini diharapkan menjadi refleksi bagi masyarakat dalam menghadapi krisis energi dengan sikap bijak dan bertanggung jawab.

Dengan mengedepankan etika Islam, diharapkan panic buying dapat diminimalisir dan stabilitas pasar tercapai.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.