Media Kampung – 04 April 2026 | Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kenaikan signifikan harga aspal di pasar Indonesia, sementara Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan langkah pemerintah untuk mempercepat produksi domestik.

Perang tersebut meningkatkan harga minyak mentah global, komponen utama aspal, dengan lonjakan sekitar 20% sejak awal 2024.

Kenaikan biaya bahan baku menambah beban pada proyek jalan nasional, diperkirakan menambah beban anggaran hingga 1,5 triliun rupiah tahun ini.

Dody Hanggodo menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan impor aspal dan menargetkan pencapaian 30% produksi dalam negeri pada 2026.

Kebijakan baru mencakup insentif fiskal, termasuk kredit pajak 10% dan subsidi energi bagi perusahaan yang memperluas kapasitas produksi.

Beberapa perusahaan domestik, seperti PT Semen Indonesia dan PT Krakatau Steel, telah mengumumkan rencana penambahan unit produksi aspal.

Analisis pasar menunjukkan potensi penurunan impor hingga 40% bila target produksi tercapai, yang dapat mengurangi defisit neraca perdagangan.

Namun, tantangan teknis masih ada karena kualitas aspal lokal belum sepenuhnya setara dengan produk impor, khususnya untuk proyek jalan berkecepatan tinggi.

Pemerintah berkoordinasi dengan BPPT untuk meningkatkan standar mutu, dengan program riset bersama yang diharapkan menghasilkan formula campuran baru.

Sektor konstruksi menanggapi kebijakan secara hati-hati; Asosiasi Kontraktor Indonesia meminta jaminan pasokan stabil sebelum menyesuaikan anggaran proyek.

Peningkatan harga aspal berdampak pada konsumen akhir, diproyeksikan menaikkan tarif tol dan biaya transportasi sebesar 5‑7% dalam enam bulan ke depan.

Meski tekanan inflasi meningkat, Menteri menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga kelancaran proyek infrastruktur dan berharap produksi lokal dapat menstabilkan pasar dalam jangka menengah.

Situasi geopolitik tetap tidak menentu, namun kebijakan domestik diharapkan memberikan bantalan ekonomi bagi sektor jalan raya Indonesia.

Negara ASEAN tetangga juga mengalami tekanan harga aspal serupa, membuka peluang bagi Indonesia menjadi pemasok alternatif bagi Malaysia dan Filipina.

Sejak 2019, Indonesia mengimpor rata-rata 1,2 juta ton aspal per tahun; pada 2023 impor turun 15% setelah program substitusi awal berjalan.

Jika konflik di Timur Tengah berlanjut, volatilitas harga minyak dapat terus memengaruhi biaya konstruksi, sehingga pemerintah menyiapkan cadangan strategis bahan baku untuk mengantisipasi lonjakan mendadak.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.