Media Kampung – 04 April 2026 | India mencatat penurunan impor minyak sawit pada Maret 2026, mencapai level terendah tiga bulan berturut‑turut.

Penurunan ini bertepatan dengan kenaikan harga minyak sawit di pasar internasional yang melampaui level historis beberapa bulan terakhir.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor India turun hampir 30% dibandingkan Februari, sementara harga spot di bursa London naik lebih dari 15% sejak awal tahun.

Para pelaku industri di India menyatakan keputusan menahan pembelian sebagai respons terhadap ketidakpastian harga yang terus meningkat.

“Kami menunda pembelian besar sampai pasar stabil,” kata Ramesh Kumar, manajer pengadaan di sebuah perusahaan makanan olahan di Mumbai.

Kumar menambahkan bahwa fluktuasi harga menambah beban biaya produksi dan mengurangi margin keuntungan.

Sementara itu, eksportir minyak sawit Indonesia mengkhawatirkan dampak penurunan permintaan India terhadap pendapatan negara.

Kementerian Perdagangan mencatat bahwa India merupakan pembeli terbesar minyak sawit Indonesia, menyumbang lebih dari 30% total ekspor tahunan.

Penurunan impor India selama tiga bulan terakhir menurunkan volume ekspor Indonesia sebesar 12,5 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Analis pasar, Anita Sari dari PT AgroConsult, memperkirakan penurunan ini bersifat sementara jika harga global dapat kembali stabil.

Sari menilai bahwa faktor cuaca ekstrem di negara produsen utama, seperti banjir di Malaysia, turut memicu kenaikan harga.

Kenaikan biaya logistik, termasuk tarif pengapalan yang naik setelah kebijakan bahan bakar baru, juga menambah tekanan pada rantai pasok.

Pemerintah Indonesia menanggapi situasi dengan memperkuat promosi minyak sawit ke pasar alternatif, termasuk Uni Eropa dan Timur Tengah.

Upaya diversifikasi tujuan ekspor diharapkan dapat menyeimbangkan penurunan permintaan dari India.

Namun, pernyataan resmi kementerian menekankan pentingnya mempertahankan hubungan dagang yang stabil dengan India sebagai mitra strategis.

Di tingkat konsumen, kenaikan harga minyak sawit berdampak pada harga makanan olahan, snack, dan produk kebersihan yang mengandung bahan baku tersebut.

Retailer di India melaporkan penurunan penjualan produk berbasis minyak sawit sebesar 8% pada kuartal pertama 2026.

Kenaikan harga energi global juga memperburuk situasi, karena biaya produksi menjadi lebih tinggi pada pabrik-pabrik pengolah kelapa sawit.

Secara global, indeks harga komoditas makanan mencatat kenaikan tertinggi dalam enam bulan terakhir, memicu kekhawatiran inflasi di negara berkembang.

Bank Dunia memperingatkan bahwa tekanan harga pangan dapat memicu ketidakstabilan sosial jika tidak dikelola dengan kebijakan fiskal yang tepat.

Pemerintah India menyatakan akan memonitor pasar minyak nabati dan mempertimbangkan kebijakan subsidi sementara untuk menahan inflasi.

Sementara itu, produsen Indonesia berupaya meningkatkan efisiensi produksi dengan mengadopsi teknologi pemrosesan yang lebih hemat energi.

Investasi dalam penelitian varietas kelapa sawit yang tahan iklim diproyeksikan dapat menurunkan biaya produksi jangka panjang.

Para ahli sepakat bahwa keseimbangan antara penawaran dan permintaan global akan menentukan arah harga minyak sawit dalam beberapa kuartal mendatang.

Dengan harga yang masih tinggi dan impor India yang menurun, industri minyak sawit Indonesia berada pada titik kritis yang menuntut adaptasi cepat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.