Media Kampung – 04 April 2026 | Harga cabai rawit di pasar tradisional meningkat tajam, sementara harga ayam mencapai sekitar Rp 50.000 per kilogram. Kenaikan ini menambah beban biaya pangan bagi konsumen di seluruh Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik mencatat kenaikan harga cabai rawit sebesar 18 persen dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi pangan nasional yang berada di 7,5 persen.

Komoditas utama lain seperti bawang merah dan beras juga mengalami lonjakan harga dalam periode yang sama. Bawang merah naik hampir 12 persen, sedangkan beras melambung 5 persen.

Sebaliknya, harga telur dan beberapa varietas cabai lain menunjukkan penurunan marginal. Penurunan ini belum mampu menyeimbangkan kenaikan tajam pada cabai rawit.

Analis pasar pangan, Rini Widyastuti, menyatakan bahwa tekanan pada pasokan cabai rawit menjadi penyebab utama. Ia menambahkan bahwa cuaca ekstrem dan serangan hama memperparah situasi.

Pedagang sayur di Jakarta, Budi Hartono, mengaku kesulitan memenuhi permintaan konsumen. Ia melaporkan bahwa stok cabai rawit kini hanya mencukupi satu hari perdagangan.

Kondisi cuaca tidak menentu di wilayah Jawa Tengah mengakibatkan hasil panen cabai turun 30 persen. Kerusakan lahan akibat hujan lebat dan suhu tinggi mengurangi produktivitas tanaman.

Permintaan cabai rawit tetap tinggi karena konsumen Indonesia menyukai makanan pedas, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun industri makanan. Selain itu, ekspor cabai ke pasar Asia Tenggara menambah tekanan pada pasokan domestik.

Beban harga tinggi dirasakan paling kuat oleh rumah tangga berpenghasilan rendah yang mengalokasikan lebih dari 30 persen pendapatan untuk pangan. Kenaikan harga ini dapat memicu penurunan kualitas gizi bila konsumen beralih ke bahan lebih murah.

Kementerian Perdagangan terus memantau pergerakan harga dan menyiapkan langkah penstabilan melalui subsidi dan distribusi bahan pangan strategis. Pemerintah juga berkoordinasi dengan petani untuk meningkatkan produksi melalui bantuan bibit dan pupuk.

Jika dibandingkan dengan awal tahun, harga cabai rawit kini hampir dua kali lipat, sementara harga ayam naik sekitar 15 persen. Kenaikan tersebut memperlebar selisih harga dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Regional, harga cabai rawit di Pulau Sumatra masih lebih rendah dibandingkan Jawa, namun tren kenaikan tetap konsisten. Perbedaan ini dipengaruhi oleh akses logistik dan tingkat produksi lokal.

Harga ayam terpengaruh oleh biaya pakan ternak yang juga melonjak akibat kenaikan harga kedelai dan jagung. Kenaikan pakan mencapai 20 persen, menambah beban produksi peternak.

Kenaikan biaya pakan memaksa peternak menyesuaikan harga jual, sehingga konsumen merasakan dampak pada pasar daging unggas. Sebagian restoran kini mengganti menu berbasis ayam dengan alternatif ikan atau nabati.

Peningkatan harga cabai rawit dan ayam dapat memicu inflasi harga makanan siap saji di sektor restoran cepat saji. Beberapa jaringan restoran mengumumkan penyesuaian menu dengan porsi lebih kecil atau bahan substitusi.

Konsumen dapat mengurangi ketergantungan pada cabai rawit dengan menggunakan cabai merah atau bumbu lain yang lebih terjangkau. Namun, selera pedas yang kuat tetap menjadi faktor utama dalam pola konsumsi.

Para ahli memperkirakan harga cabai rawit akan tetap tinggi hingga musim panen berikutnya stabil dan pasokan meningkat. Upaya diversifikasi produksi dan peningkatan teknologi pertanian diharapkan menurunkan volatilitas harga.

Secara keseluruhan, kenaikan harga cabai rawit dan ayam menambah tekanan pada inflasi pangan, memerlukan kebijakan yang terkoordinasi untuk menjaga kestabilan pasar. Pengawasan terus-menerus dan dukungan pada petani menjadi kunci mengurangi beban konsumen.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.