Media Kampung – 04 April 2026 | Surabaya mengalami lonjakan harga plastik sebesar 40% dalam satu bulan terakhir, menurut data pasar grosir setempat.
Kenaikan tersebut pertama kali terdeteksi pada akhir Maret 2024 dan menyentuh hampir semua jenis kemasan plastik, mulai dari kantong belanja hingga botol minuman.
Peningkatan tajam ini bertepatan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Minyak mentah menjadi bahan baku utama dalam produksi resin plastik, sehingga setiap kenaikan harga minyak langsung memengaruhi biaya produksi plastik.
Analis pasar PT PetroChem Indonesia menyatakan bahwa harga resin polietilena (PE) dan polipropilena (PP) naik lebih dari 30% sejak awal konflik.
Kenaikan biaya bahan baku tersebut diteruskan ke produsen kemasan, yang pada gilirannya menaikkan harga jual kepada pedagang dan konsumen akhir.
Pengusaha plastik di Surabaya, Ahmad Fauzi, mengaku margin keuntungan tertekan dan terpaksa menambah harga jual sebesar 40% untuk menutupi beban produksi.
Akibatnya, pedagang pasar tradisional dan swalayan melaporkan kenaikan harga barang konsumen yang menggunakan kemasan plastik, seperti beras, gula, dan sayuran.
Pangan menjadi komoditas paling terdampak karena banyak produk bergantung pada kemasan plastik untuk menjaga kebersihan dan umur simpan.
Kenaikan harga plastik diprediksi akan menimbulkan efek domino pada inflasi pangan di Surabaya dan sekitarnya selama beberapa bulan ke depan.
Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Perindustrian menegaskan bahwa mereka sedang memantau situasi dan akan berkoordinasi dengan kementerian terkait.
Kepala Dinas Perindustrian, Rina Suryani, menyatakan bahwa langkah sementara berupa subsidi energi untuk produsen plastik sedang dipertimbangkan.
Namun, Rina menambahkan bahwa solusi jangka panjang harus melibatkan diversifikasi sumber bahan baku, termasuk pengembangan bahan baku nabati.
Lembaga riset ekonomi Universitas Airlangga memperkirakan bahwa jika harga minyak tetap tinggi, harga plastik dapat terus melaju di atas 50% dalam tiga bulan ke depan.
Peneliti ekonomi, Dr. Budi Hartono, menekankan bahwa pemerintah daerah perlu menyiapkan kebijakan perlindungan konsumen untuk menghindari beban berlebih pada rumah tangga berpenghasilan rendah.
Sementara itu, konsumen di Surabaya melaporkan penyesuaian pola belanja, seperti beralih ke kemasan alternatif atau membeli produk dalam jumlah lebih sedikit.
Pengamat pasar internasional mencatat bahwa konflik di Timur Tengah telah memicu tekanan pada rantai pasok global, tidak hanya pada sektor energi tetapi juga pada industri kimia dan plastik.
Pemerintah pusat telah menyiapkan kebijakan penyesuaian tarif impor bahan baku kimia, namun prosesnya memerlukan waktu dan belum dapat mengurangi tekanan harga secara instan.
Dengan situasi ini, para pelaku usaha di Surabaya diharapkan dapat menyesuaikan strategi penjualan, termasuk menawarkan paket bundling atau meningkatkan efisiensi produksi.
Pada akhir pekan ini, Dinas Perindustrian Surabaya berencana mengadakan forum bersama pelaku usaha dan akademisi untuk mencari solusi bersama.
Forum tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat menstabilkan harga plastik dan mengurangi dampak inflasi pangan.
Secara keseluruhan, kenaikan harga plastik di Surabaya mencerminkan dampak langsung konflik geopolitik terhadap perekonomian regional, menegaskan pentingnya ketahanan pasokan bahan baku dalam menghadapi gejolak global.
Pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat berkolaborasi untuk menahan laju inflasi dan melindungi daya beli konsumen di tengah ketidakpastian pasar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan