Media Kampung – 04 April 2026 | BPS mengonfirmasi kenaikan signifikan harga cabai rawit di provinsi Gorontalo selama periode Ramadhan hingga menjelang Lebaran. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya permintaan tradisional untuk bumbu rica‑rica.

Data statistik menunjukkan harga eceran cabai rawit melonjak hingga 30 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini melampaui rata‑rata inflasi pangan nasional pada bulan yang sama.

Rica‑rica, saus pedas khas Gorontalo, biasanya disajikan bersama hidangan ikan atau ayam pada jam buka puasa. Tradisi memasak rica‑rica meningkat tajam ketika umat Islam menunaikan ibadah puasa.

Permintaan yang tiba‑tiba tinggi memaksa pedagang pasar memperbesar margin penjualan. Akibatnya konsumen harus membayar harga lebih tinggi untuk kebutuhan dapur sehari‑hari.

BPS mencatat bahwa produksi cabai rawit di Gorontalo tidak mengalami pertumbuhan yang seimbang dengan lonjakan konsumsi. Hasil panen 2023 diperkirakan turun 5 persen karena cuaca kering.

Keterbatasan pasokan dipadukan dengan distribusi yang belum optimal memperparah tekanan harga. Beberapa pedagang melaporkan kekurangan stok sejak pertengahan Ramadan.

Pemerintah Provinsi Gorontalo menanggapi situasi dengan menambah pasokan cabai dari daerah tetangga. Upaya tersebut diharapkan dapat menstabilkan harga sebelum Lebaran.

Kepala Dinas Pertanian Gorontalo, Dr. Rudi Hartono, menyatakan bahwa bantuan logistik sedang dipersiapkan. “Kami berkoordinasi dengan petani di Sulawesi Utara untuk mempercepat pengiriman,” katanya.

Di sisi lain, para petani lokal menilai harga jual cabai rawit masih belum menguntungkan. Mereka berharap harga jual yang lebih tinggi dapat mendorong produksi kembali.

BPS menambahkan bahwa inflasi harga cabai rawit dapat mempengaruhi indeks harga konsumen (IHK) regional. Kenaikan IHK berpotensi menambah beban ekonomi rumah tangga.

Analisis BPS menunjukkan bahwa inflasi pangan di Gorontalo mencapai 4,2 persen pada kuartal pertama 2024. Angka ini berada di atas rata‑rata nasional sebesar 3,1 persen.

Kenaikan harga cabai juga berdampak pada sektor kuliner, terutama warung makan yang mengandalkan rica‑rica sebagai menu utama. Beberapa pemilik usaha melaporkan penurunan penjualan karena harga yang naik.

Untuk mengurangi beban konsumen, beberapa toko grosir menawarkan paket cabai rawit dengan harga diskon. Namun, ketersediaan paket tersebut masih terbatas.

Konsumen Gorontalo menyampaikan keluhan melalui media sosial tentang harga yang tidak terjangkau. Banyak yang menunda pembelian hingga harga turun.

Pakar ekonomi, Dr. Siti Lestari, mengingatkan bahwa fluktuasi harga pangan bersifat musiman. “Kondisi ini wajar selama periode puasa, namun perlu penanganan kebijakan yang tepat,” ujarnya.

BPS menyarankan agar pemerintah memperkuat rantai pasok pangan dengan meningkatkan fasilitas penyimpanan. Penyimpanan yang memadai dapat mengurangi kerugian pasca panen.

Selain penyimpanan, diversifikasi varietas cabai yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem menjadi prioritas. Penelitian varietas baru sedang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Sementara itu, konsumen di daerah lain yang tidak memiliki tradisi rica‑rica tidak mengalami lonjakan harga yang sama. Hal ini menegaskan pengaruh kebudayaan terhadap pola konsumsi.

Data BPS mencatat bahwa konsumsi cabai rawit per kapita di Gorontalo naik 18 persen selama Ramadhan. Peningkatan ini berkontribusi pada tekanan permintaan.

Peningkatan permintaan tidak hanya terjadi di pasar tradisional, tetapi juga di platform e‑commerce. Penjualan online cabai rawit mencatat pertumbuhan tiga digit.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan menyiapkan kebijakan impor sementara cabai rawit. Kebijakan ini ditujukan untuk menstabilkan pasar domestik.

Namun, importasi cabai rawit dapat menimbulkan persaingan harga bagi petani lokal. Pemerintah berjanji akan melindungi petani dengan subsidi produksi.

Di akhir Ramadhan, harga cabai rawit mulai menunjukkan tanda penurunan. Penurunan ini dipicu oleh peningkatan pasokan dan menurunnya konsumsi setelah Lebaran.

Meskipun demikian, BPS memperingatkan bahwa harga dapat kembali naik pada musim hujan berikutnya bila pasokan menurun. Kewaspadaan tetap diperlukan.

Kesimpulannya, tradisi kuliner khas Gorontalo menjadi faktor utama inflasi harga cabai rawit selama bulan suci. Penanganan terpadu antara pemerintah, petani, dan pelaku pasar diperlukan untuk mengendalikan fluktuasi harga.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.