Media Kampung – 02 April 2026 | Harga emas perhiasan di Indonesia mengalami penurunan pada Kamis, 2 April 2026, seiring dengan melemahnya harga emas dunia.

Harga spot emas dunia turun menjadi US$4.690 per ons, mengakhiri empat hari kenaikan beruntun.

Penurunan ini dipicu oleh penguatan dolar AS setelah Presiden Donald Trump menyatakan tidak ada jadwal pasti untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Dolar yang kembali berperan sebagai aset safe‑haven menurunkan daya tarik logam mulia yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut.

Sementara itu, harga minyak mentah naik, menambah kekhawatiran inflasi dan menimbulkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Pasar menilai kemungkinan pemotongan suku bunga Federal Reserve pada tahun 2026 menjadi semakin kecil, memperkuat tekanan pada emas.

Di pasar domestik, Raja Emas melaporkan harga jual per gram emas 24 karat sebesar Rp3.018.000, hampir menyamai level terendah pekan ini.

Laku Emas mencatat harga jual per gram emas 24 karat sebesar Rp3.019.000, menandakan selisih tipis antara kedua pedagang.

Buyback atau harga beli kembali di Laku Emas berada pada Rp2.715.000 per gram, menandakan margin keuntungan bagi penjual.

Data Antam menunjukkan harga jual 1 gram emas 24 karat mencapai Rp3.019.000, naik Rp78.000 dibandingkan hari sebelumnya.

Kenaikan tersebut mencerminkan permintaan stabil dari industri perhiasan serta spekulasi investor yang mengantisipasi volatilitas pasar global.

Di Kalimantan Selatan, harga emas 999 di Banjarmasin tercatat naik meski volume transaksi tetap rendah.

Kondisi serupa terlihat di Martapura, di mana harga perhiasan 999 bergerak seirama dengan Antam, namun permintaan konsumen masih lesu.

Palembang melaporkan tidak ada perubahan signifikan pada harga emas perhiasan pada hari yang sama, sementara Antam mencatat sedikit kenaikan.

Para pedagang mengamati bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar menambah ketidakpastian bagi pembeli ritel.

Analis pasar menekankan pentingnya memantau kebijakan moneter AS serta harga minyak sebagai faktor penentu arah harga emas di Indonesia.

Dengan dinamika tersebut, emas perhiasan tetap menjadi instrumen lindung nilai yang diminati, meski investor dihadapkan pada tekanan harga yang berulang.

Ke depan, pergerakan harga akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan keputusan suku bunga bank sentral dunia.

Masyarakat yang mempertimbangkan pembelian atau penjualan emas disarankan memperhatikan pergerakan dolar serta data ekonomi terbaru.

Secara keseluruhan, pasar emas perhiasan Indonesia menunjukkan respons sensitif terhadap faktor eksternal, namun tetap menawarkan peluang bagi investor yang cermat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.