Media Kampung – 02 April 2026 | Indonesia berhasil mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) pada level yang sama sejak 1 April 2026, meskipun pasar minyak dunia mengalami lonjakan tajam.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan keputusan itu mengikuti arahan pemerintah yang menolak penyesuaian harga BBM.
Konflik antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran serta pembatasan lalu lintas minyak di Selat Hormuz memicu kenaikan harga solar hingga 0,44 dolar AS (sekitar Rp7.600) per liter di Afrika Selatan.
Di Australia, harga minyak mentah mencatat kenaikan 27 persen sejak akhir Februari 2026, sementara persediaan bahan bakar cukup untuk 30 hari solar dan 39 hari bensin.
Di Amerika Serikat, rata‑rata harga bensin reguler telah melewati US$4 per galon (sekitar Rp68.000), naik 35 persen sejak konflik di Timur Tengah dimulai.
Warga berusia 83 tahun, Jeanne Williams, mengeluh bahwa harga di SPBU lokal mencapai US$3,79 per galon untuk pembayaran tunai dan lebih tinggi bila menggunakan kartu.
Luis Ramos, pengemudi asal New York, menilai kenaikan bahan bakar sebagai beban tambahan yang mengancam daya beli rumah tangga.
Ekonom Bloomberg, Eliza Winger, memperkirakan kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dapat menurunkan pengeluaran konsumen riil sekitar 0,2 persen.
Di kawasan ASEAN, harga bensin bervariasi; Vietnam sekitar Rp15.678 per liter, Thailand Rp21.559, Singapura Rp28.359, dan Malaysia Rp19.199 untuk varian premium.
| Negara | Bensin (Rp/liter) |
|---|---|
| Vietnam | 15.678 |
| Thailand | 21.559 |
| Singapura | 28.359 |
| Malaysia | 19.199 |
Dengan harga subsidi yang tetap di bawah Rp20.000 per liter, Indonesia berada di posisi termurah di antara negara‑negara ASEAN.
Namun, kesenjangan harga global terlihat jelas ketika beberapa negara menjual bensin dengan harga hampir gratis; misalnya Venezuela diperkirakan menjual bahan bakar hanya seharga Rp500 per liter karena subsidi ekstrem.
Perbedaan tersebut menegaskan bahwa kebijakan domestik Indonesia berhasil menahan inflasi BBM, sementara tekanan eksternal terus mendorong harga di pasar internasional.
Ke depan, pemerintah menyatakan akan terus menanggung selisih harga melalui kompensasi kepada Pertamina, guna memastikan stabilitas harga bagi konsumen.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan