Media Kampung – 01 April 2026 | Petrokimia Gresik mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat keamanan pasokan sulfur menjelang akhir tahun 2026.

Keputusan ini diambil setelah perusahaan menilai risiko geopolitik di Timur Tengah yang masih menjadi sumber utama sulfur dunia.

Direktur Utama Daconi Khotob menegaskan bahwa sekitar sepertiga perdagangan sulfur global berasal dari Teluk Persia.

Indonesia sendiri masih mengimpor lebih dari 75 persen kebutuhan sulfur, sebagian besar berasal dari kawasan tersebut.

Gangguan pada jalur logistik internasional dapat mempengaruhi harga dan ketersediaan sulfur secara signifikan.

Kebutuhan asam sulfat nasional terus meningkat, kini mencapai sekitar 19 juta ton per tahun.

Sektor pupuk dan industri hilirisasi mineral, terutama nikel, menjadi konsumen terbesar asam sulfat.

Dengan volume permintaan tersebut, Indonesia menempati posisi sebagai salah satu pasar sulfur terbesar di dunia.

Petrokimia Gresik memiliki fasilitas produksi asam sulfat terintegrasi dengan kapasitas 1,8 juta ton per tahun.

Fasilitas ini mengolah sulfur menjadi asam sulfat yang selanjutnya dipakai dalam produksi pupuk fosfat dan NPK.

Daconi menambahkan bahwa pabrik tersebut juga mendukung produksi bahan kimia lain serta memperkuat ketahanan industri dalam negeri.

Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, perusahaan mengadopsi strategi diversifikasi sumber pasokan.

Langkah tersebut mencakup penandatanganan kontrak jangka panjang dengan pemasok alternatif di luar Timur Tengah.

Petrokimia Gresik juga meningkatkan kapasitas penyimpanan sulfur di lokasi strategis di Jawa Timur.

Investasi infrastruktur distribusi diharapkan memperlancar aliran bahan baku ke pabrik-pabrik pengguna.

“Stabilitas pasokan sulfur merupakan kunci menjaga produksi pupuk nasional,” ujar Daconi dalam konferensi Argus Fertilizer Asia 2026.

Ia menekankan bahwa gangguan geopolitik dapat mengakibatkan fluktuasi harga yang berdampak pada petani.

Selain sektor pertanian, industri pengolahan logam dan baterai listrik juga semakin menuntut asam sulfat.

Teknologi high‑pressure acid leaching (HPAL) dalam pemrosesan nikel memerlukan asam sulfat dalam jumlah besar.

Peningkatan produksi nikel untuk baterai kendaraan listrik memperkuat peran sulfur sebagai komoditas vital.

Petrokimia Gresik berencana memperluas kapasitas produksi asam sulfat dalam jangka menengah.

Ekspansi ini akan mengoptimalkan penggunaan sulfur yang tersedia secara domestik.

Perusahaan juga tengah meninjau peluang investasi pada proyek penambangan sulfur di wilayah Indonesia.

Jika berhasil, hal tersebut dapat menurunkan ketergantungan pada impor secara signifikan.

Pemerintah Indonesia telah menyiapkan kebijakan dukungan bagi perusahaan yang mengembangkan sumber daya mineral dalam negeri.

Langkah tersebut sejalan dengan agenda kemandirian industri kimia nasional.

Analisis pasar menunjukkan bahwa harga sulfur global berpotensi naik jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut.

Petrokimia Gresik berharap strategi diversifikasi dapat melindungi margin keuntungan perusahaan.

Secara keseluruhan, upaya penguatan rantai pasok sulfur ini diharapkan menjaga stabilitas produksi pupuk nasional.

Dengan pasokan yang lebih terjamin, ketahanan pangan Indonesia dapat dipertahankan di tengah dinamika pasar global.

Petrokimia Gresik menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen terus meningkatkan kapasitas domestik demi kepentingan industri dan pertanian.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.