Media Kampung – 01 April 2026 | Perum Bulog mengumumkan kesiapan membangun seratus titik infrastruktur pascapanen di seluruh Indonesia dengan total anggaran mencapai lima triliun rupiah.

Pengumuman tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada Rabu 1 April, yang dihadiri perwakilan Kementerian Pertanian, Bapanas, BPKP, dan pemangku kepentingan terkait.

Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa perusahaan siap melaksanakan mandat Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2026 secara profesional dan terukur.

Ia menilai program ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistem logistik dan ketahanan pangan nasional, dengan menekankan pentingnya penempatan, fungsi, dan manfaat yang tepat bagi masyarakat.

Pelaksanaan program dibagi menjadi tiga tahap utama: studi kelayakan yang melibatkan akademisi dan pakar, penyusunan pertimbangan teknis bersama Kementerian Pertanian, serta evaluasi kelayakan finansial dan rekomendasi penggunaan dana investasi non‑permanen.

Studi kelayakan akan menelaah aspek teknis, operasional, dan finansial secara menyeluruh, serta mengidentifikasi risiko potensial sebelum proyek dimulai.

Pertimbangan teknis akan dikoordinasikan dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan untuk menyesuaikan desain dengan karakteristik masing‑masing wilayah.

Evaluasi finansial akan menilai kemampuan pembiayaan dan menghasilkan rekomendasi penggunaan dana pemerintah, yang selanjutnya akan dilaporkan kepada Menteri Koordinator Pangan untuk persetujuan.

Program ini mencakup 92 kabupaten dengan alokasi anggaran sekitar Rp5 triliun, di mana Rp4,4 triliun ditujukan untuk pembangunan infrastruktur utama dan Rp560 miliar untuk mekanisasi, otomatisasi, serta sistem teknologi informasi.

Rincian fasilitas meliputi 94 unit gudang penyimpanan, enam silo gabah, delapan silo jagung, tujuh belas dryer beras, tujuh belas unit rice milling, delapan dryer jagung, serta sembilan sentra pengolahan dan fasilitas pengemasan beras.

Setiap lokasi akan menjalani uji kelayakan teknis, termasuk analisis tanah, kemiringan lahan, dan akses jalan, guna memastikan kelancaran distribusi logistik.

Pembangunan fisik akan dilaksanakan oleh BUMN karya sesuai ketentuan Perpres, menjamin standar kualitas dan akuntabilitas.

Prioritas penempatan berada di sentra produksi pangan seperti Lampung, Jawa, dan Sulawesi Selatan dengan fasilitas lengkap berbasis teknologi modern.

Untuk wilayah kepulauan seperti Natuna, Rote, dan Tidore, fokus utama adalah pembangunan gudang penyimpanan guna menjaga stabilitas pasokan terutama pada kondisi cuaca ekstrem.

Bulog berharap jaringan infrastruktur ini dapat menurunkan tingkat kehilangan pascapanen, mempercepat distribusi, dan memastikan ketersediaan pangan yang merata di seluruh wilayah Indonesia.

Inisiatif ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk memodernisasi rantai pasok pertanian dan memperkuat ketahanan pangan jangka panjang.

Bulog akan memantau progres secara berkala, menyampaikan laporan kepada Kementerian Koordinator Pangan, dan melaksanakan proyek setelah mendapatkan persetujuan final.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.