Media Kampung – 01 April 2026 | Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD, Ghimoyo, mengonfirmasi bahwa konflik bersenjata di Iran menimbulkan gangguan signifikan terhadap aliran impor pangan ke Indonesia.
Penutupan Selat Hormuz serta ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memperlambat pengiriman bahan baku, khususnya daging dan gula, yang sebagian besar dipasok dari wilayah tersebut.
Ghimoyo menyatakan bahwa kenaikan nilai tukar rupiah dan harga komoditas di negara asal meningkatkan biaya impor secara langsung.
“Daging itu pasti dengan kurs yang naik dan harga yang di sana naik. Itu pasti berdampak,” ujarnya dalam rapat kerja Komisi VI DPR pada 30 Maret.
Selain konflik Iran, perubahan iklim juga menjadi ancaman tambahan, dengan proyeksi El Nino yang mencapai 60 % kemungkinan pada musim panas 2026.
Ghimoyo mengingatkan bahwa pola curah hujan ekstrem dan suhu tinggi dapat menurunkan hasil pertanian, memperburuk ketergantungan impor.
Ia menambahkan bahwa potensi terjadinya Super El Nino pada akhir tahun ini dapat meningkatkan risiko kekurangan pasokan pangan domestik.
Hubungan erat antara sektor energi dan pangan juga menjadi perhatian, mengingat peningkatan penggunaan tanaman pertanian sebagai bahan baku biofuel.
Peningkatan permintaan biofuel dapat menambah tekanan pada pasar komoditas pertanian, sehingga mempertinggi harga secara keseluruhan.
ID FOOD berkomitmen menjaga stabilitas harga dengan menyesuaikan strategi pembelian dan meningkatkan cadangan strategis.
Perusahaan berencana memperkuat kerjasama dengan produsen lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor yang rentan terhadap gejolak eksternal.
Ghimoyo menegaskan bahwa diversifikasi sumber pasokan menjadi kunci dalam menghadapi guncangan geopolitik.
Ia juga menyoroti pentingnya investasi pada teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas dalam negeri.
Pemerintah diharapkan mendukung kebijakan yang memfasilitasi produksi lokal serta mempercepat perizinan investasi di sektor pangan.
Dalam konteks ini, ID FOOD akan berperan sebagai stabilisator ekosistem pangan nasional, berupaya menyeimbangkan harga pasar.
Strategi tersebut meliputi pengelolaan stok cadangan, penyesuaian tarif impor, serta pengaturan distribusi secara efisien.
Ghimoyo menambahkan bahwa upaya tersebut diarahkan untuk melindungi konsumen dari lonjakan harga yang tidak terkendali.
Ia juga menegaskan perlunya koordinasi antara kementerian terkait, BUMN, dan pelaku industri untuk memperkuat ketahanan pangan.
Selain itu, ID FOOD akan memonitor secara intensif dinamika pasar internasional, termasuk kebijakan tarif dan sanksi ekonomi yang dapat mempengaruhi alur perdagangan.
Pertemuan dengan para pemangku kepentingan di sektor pangan direncanakan secara berkala untuk menilai risiko dan menyesuaikan kebijakan.
Ghimoyo menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa stabilitas harga pangan merupakan prioritas utama dalam menjaga kesejahteraan masyarakat.
Ia berharap langkah-langkah ini dapat mengurangi dampak negatif dari konflik Iran serta perubahan iklim yang sedang berlangsung.
Dengan mengoptimalkan sumber daya lokal, ID FOOD berupaya menciptakan sistem pangan yang lebih resilien terhadap guncangan eksternal.
Perusahaan juga menargetkan peningkatan produksi gula dalam negeri melalui program kemitraan dengan petani.
Inisiatif tersebut diharapkan menambah pasokan domestik dan menurunkan kebutuhan impor pada komoditas strategis.
Secara keseluruhan, ID FOOD menilai situasi global tetap tidak menentu, namun kesiapan adaptasi menjadi kunci mengatasi tantangan.
Penguatan ketahanan pangan nasional diyakini akan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar regional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan