Media Kampung – 01 April 2026 | Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatat surplus sebesar USD 1,27 miliar, melanjutkan rentetan surplus selama 70 bulan berturut‑turut sejak Mei 2020.

Surplus ini dipicu oleh kinerja kuat sektor non‑migas yang menghasilkan surplus USD 2,19 miliar, didominasi oleh lemak dan minyak hewani serta nabati.

Di sisi lain, komoditas migas masih menyumbang defisit sebesar USD 0,92 miliar, dengan minyak mentah, hasil olahan, dan gas sebagai penyumbang utama.

Ia menambahkan, “Surplus pada Januari‑Februari 2026 didukung oleh surplus non‑migas sebesar USD 5,42 miliar, sementara migas tetap defisit USD 3,19 miliar.”

Ekspor kumulatif pada dua bulan pertama tahun ini naik 2,19 persen YoY, terutama berkat sektor industri pengolahan yang mencatat nilai ekspor USD 37,06 miliar, naik 6,69 persen.

China, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi tiga pasar utama ekspor non‑migas, menyumbang total hampir 44 persen dari nilai ekspor.

China tercatat sebagai tujuan utama dengan nilai ekspor USD 10,46 miliar atau 24,69 persen, diikuti Amerika Serikat sebesar USD 5,00 miliar (11,81 persen) dan India USD 3,11 miliar (7,35 persen).

Ekspor ke China didominasi oleh besi, baja, nikel, serta bahan bakar mineral, sementara ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin listrik, alas kaki, dan pakaian rajut.

Impor kumulatif hingga Februari 2026 mencapai USD 42,09 miliar, naik 14,44 persen YoY, dengan sektor non‑migas menyumbang USD 36,93 miliar (kenaikan 17,49 persen) dan migas turun 3,50 persen menjadi USD 5,16 miliar.

Peningkatan impor terjadi merata pada barang modal, bahan baku, dan barang konsumsi; nilai impor barang modal mencapai USD 9,10 miliar (kenaikan 34,44 persen) dan bahan baku USD 29,40 miliar (kenaikan 9,27 persen).

China tetap menjadi sumber utama impor non‑migas dengan nilai USD 15,68 miliar (42,46 persen), diikuti Australia USD 2,07 miliar (5,60 persen) dan Singapura USD 2,00 miliar (5,41 persen).

Lima komoditas utama menyumbang surplus non‑migas hingga Februari, yaitu lemak dan minyak hewan/nabati (USD 6,49 miliar), bahan bakar mineral (USD 4,01 miliar), besi dan baja (USD 2,70 miliar), nikel beserta barang turunannya (USD 1,97 miliar), serta alas kaki (USD 0,99 miliar).

Kondisi surplus yang berkelanjutan mencerminkan daya saing produk non‑migas Indonesia di pasar global, sekaligus menegaskan peran strategis sektor manufaktur dan pengolahan dalam menambah nilai ekspor.

Namun, defisit migas yang masih signifikan menandakan ketergantungan pada impor energi, meski terjadi penurunan volume impor migas pada periode ini.

Pengamat ekonomi menilai bahwa diversifikasi basis ekspor dan peningkatan nilai tambah produk akan menjadi kunci untuk mempertahankan surplus di tengah fluktuasi harga komoditas global.

Secara keseluruhan, data BPS memperlihatkan bahwa Indonesia berhasil menyeimbangkan perdagangan luar negeri berkat kekuatan sektor non‑migas, meski tantangan di sektor energi tetap perlu diatasi.

Ke depan, pemerintah diperkirakan akan terus mendorong kebijakan yang mendukung peningkatan produksi dalam negeri serta memperluas jaringan pasar, guna menjaga momentum surplus perdagangan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.