Media Kampung – 30 Maret 2026 | Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini memasuki fase intensif, menimbulkan gejolak di pasar energi global. Dampaknya langsung terasa di Indonesia, dimana pengusaha lokal melaporkan kenaikan biaya operasional, sementara Freeport Indonesia mengumumkan antisipasi kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga energi dan gangguan logistik.

Harga minyak mentah menembus US$116 per barel pada pagi hari, dipicu oleh kekhawatiran atas gangguan pasokan di Teluk Persia. Kenaikan ini menambah beban biaya bahan bakar bagi sektor transportasi, manufaktur, dan pertambangan yang sangat bergantung pada energi impor.

Rupiah terus melemah terhadap dolar, mencatat penurunan nilai lebih dari tiga persen dalam tiga minggu terakhir. Depresiasi ini memperbesar biaya impor bahan baku, terutama bagi perusahaan yang mengandalkan bahan kimia dan logam dari luar negeri, termasuk operasi tambang Freeport yang memerlukan diesel dan bahan peledak.

Rantai pasok logistik global mengalami penundaan signifikan, dengan kapal kontainer mengalami keterlambatan rata‑rata tujuh hari di pelabuhan utama Asia. Biaya sewa kapal penumpang dan offshore support vessel (OSV) diproyeksikan naik hingga 15 persen, menambah beban pada importir dan eksportir Indonesia.

Anggawira, Sekjen BPP HIPMI, menegaskan bahwa tekanan belum merata, namun industri energi, transportasi, dan makanan & minuman paling cepat terdampak. Ia menambahkan bahwa perusahaan harus menyesuaikan strategi pembelian bahan bakar dan mengoptimalkan rute distribusi untuk mengurangi dampak biaya tambahan.

Freeport Indonesia mengungkapkan bahwa proyeksi biaya operasionalnya akan meningkat antara 8 hingga 12 persen pada kuartal berikutnya. Perusahaan berencana meningkatkan hedging minyak, meninjau tarif kontrak, dan menunda beberapa proyek ekspansi untuk menjaga margin keuntungan.

Sektor makanan dan minuman juga merasakan tekanan, karena biaya logistik dan energi naik memengaruhi harga bahan baku seperti gula, tepung, dan minyak goreng. Pengusaha di bidang transportasi darat dan udara melaporkan kenaikan tarif pengiriman hingga 10 persen untuk menutupi beban bahan bakar.

Para analis memperkirakan bahwa kenaikan biaya impor dapat memperlemah neraca perdagangan Indonesia, sekaligus menambah tekanan inflasi konsumen. Jika konflik berlanjut, harga barang kebutuhan pokok diprediksi akan terus naik, menurunkan daya beli rumah tangga menengah ke bawah.

Pemerintah menyiapkan kebijakan penanggulangan dengan memperluas subsidi energi bagi sektor industri kritis dan mempercepat diversifikasi sumber energi terbarukan. Koordinasi dengan kementerian perdagangan juga dilakukan untuk memantau fluktuasi nilai tukar dan memastikan pasokan bahan baku tetap stabil.

Secara keseluruhan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menimbulkan tantangan biaya bagi pelaku usaha Indonesia, sementara langkah mitigasi seperti hedging, penyesuaian tarif, dan dukungan pemerintah menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan operasional dan stabilitas ekonomi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.