Nilai tukar rupiah anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (20/01/2026). Mata uang Garuda sempat melemah sekitar 0,3% hingga menyentuh level 16.988 per dolar AS sebelum ditutup di kisaran 16.950. Pelemahan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal domestik dan isu independensi Bank Indonesia.
Sejak awal 2026, rupiah tercatat sudah melemah sekitar 1,5% dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kelompok negara berkembang. Tren pelemahan tersebut melanjutkan tekanan sepanjang 2025, ketika rupiah terdepresiasi sekitar 3,5% terhadap dolar AS, meski indeks dolar AS justru melemah signifikan pada periode yang sama.
Tekanan terhadap rupiah semakin menguat setelah muncul kabar pencalonan wakil menteri keuangan Thomas Djiwandono sebagai salah satu kandidat anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia. Nominasi yang disampaikan pada Senin (19/01/2026) itu dinilai pasar berpotensi memunculkan persepsi berkurangnya otonomi bank sentral, terutama di tengah kondisi ekonomi yang membutuhkan kebijakan moneter independen.
Selain isu bank sentral, kondisi fiskal juga menjadi perhatian investor. Realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 tercatat mencapai 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB), mendekati batas maksimum 3% yang diatur dalam undang-undang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi pemerintah sebelumnya yang berada di kisaran 2,78% terhadap PDB.
Kekhawatiran mengenai kesehatan fiskal dan independensi Bank Indonesia sejatinya telah mencuat sejak September 2025. Saat itu, wacana revisi mandat Bank Indonesia serta rencana peninjauan ulang Undang-Undang Keuangan Negara menimbulkan sentimen negatif di pasar keuangan.
Menanggapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan tetap berfokus pada tugas utamanya, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Otoritas moneter dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan suku bunga pada Rabu (21/01/2026). Sementara itu, pemerintah menyampaikan komitmen untuk tidak menekan bank sentral dalam pembiayaan program pembangunan serta memastikan batas defisit anggaran tetap dijaga sesuai ketentuan.
Pelemahan rupiah yang berlanjut dinilai berpotensi mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali memangkas suku bunga. Sepanjang 2025, bank sentral telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 125 basis poin ke level 4,75%. Konsensus pasar masih memperkirakan peluang penurunan lanjutan sebesar 50 basis poin sepanjang 2026, meski untuk rapat dewan gubernur Januari ini, mayoritas pelaku pasar memprediksi suku bunga akan ditahan.

















Tinggalkan Balasan