Media Kampung – 07 April 2026 | Polda Sumsel meluncurkan program Desa Sadar Digital (DSD) di beberapa desa OKU Selatan sebagai langkah meningkatkan literasi digital dan mencegah kejahatan siber.
Inisiatif ini didukung oleh Polres OKU Selatan yang berkoordinasi dengan aparat keamanan serta pemangku kepentingan lokal.
Program DSD dirancang untuk memberikan pelatihan dasar penggunaan internet, keamanan data, serta cara melaporkan tindak kejahatan online.
Pelatihan diadakan di balai desa dan melibatkan warga dari segala usia, termasuk petani, pedagang, dan pelajar.
Materi yang disampaikan mencakup identifikasi penipuan digital, penggunaan sandi kuat, serta pentingnya pembaruan perangkat lunak.
Kepala Polres OKU Selatan, Kombes Polisi Ahmad Fauzi, menegaskan bahwa desa yang melek digital lebih tahan terhadap eksploitasi kriminal.
“Kami ingin setiap warga dapat memanfaatkan teknologi dengan aman, bukan menjadi korban,” ujarnya dalam sambutan resmi.
Selain pelatihan, DSD menyediakan pusat layanan informasi (PLI) yang berfungsi sebagai titik pengaduan dan edukasi berkelanjutan.
PLI dilengkapi komputer, jaringan internet, serta petugas yang siap membantu warga mengatasi masalah siber.
Polda Sumsel menargetkan pelaksanaan program di 50 desa pada akhir tahun, dengan harapan tercipta ekosistem digital yang sehat.
Anggaran program diambil dari dana APBN dan alokasi khusus Polda Sumsel untuk pencegahan kejahatan siber.
Pemerintah daerah OKU Selatan memberikan dukungan berupa fasilitas ruang pertemuan serta promosi program kepada masyarakat.
Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menunjukkan peningkatan laporan kejahatan siber di wilayah pedesaan selama tiga tahun terakhir.
Dengan DSD, aparat berharap dapat menurunkan angka tersebut melalui edukasi proaktif sebelum korban terjebak.
Beberapa desa yang menjadi pilot project melaporkan peningkatan kesadaran teknologi, termasuk penggunaan aplikasi pertanian berbasis data.
Petani di Desa Tanjung Harapan menyatakan bahwa mereka kini dapat mengakses informasi pasar melalui smartphone dengan aman.
Sementara itu, para pelajar di sekolah menengah setempat memanfaatkan materi DSD untuk tugas praktikum keamanan jaringan.
Evaluasi awal menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen peserta mampu mengidentifikasi ancaman phishing setelah pelatihan.
Polda Sumsel berencana memperluas program ke provinsi lain jika hasil evaluasi tetap positif, menegaskan komitmen jangka panjang terhadap literasi digital pedesaan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan