Media Kampung – 01 April 2026 | Desa Tempur di Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, mengalami lima kali longsor dalam satu bulan terakhir, menimbulkan gangguan signifikan pada mobilitas warga. Bencana tanah ini memperparah kondisi geografis setempat yang sudah rentan.
Bentang alam desa terdiri dari tebing tinggi dengan tanah yang mudah bergeser, sehingga menjadi titik rawan bagi pergerakan material. Setiap hujan deras memicu pergeseran batu dan tanah pada area tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menjelaskan bahwa material bebatuan di atas tebing dapat memicu longsor kapan saja. Ia menambahkan bahwa kemiringan tebing bersifat vertikal, meningkatkan potensi kegagalan tanah.
Longsor pertama tercatat pada 8 Maret 2026, dan sejak itu peristiwa serupa terjadi secara berkala. Insiden terbaru terjadi pada 28 Maret, menutup jalur utama yang menghubungkan Desa Tempur dengan Desa Damarwulan.
Batu-batu yang menjatuhkan ukuran setara kerbau hingga mobil menghalangi jalan, sehingga akses tidak dapat dilalui. Penduduk sementara diarahkan menggunakan jalur alternatif melalui Desa Medani, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati.
Pemerintah Kabupaten Jepara bersama BPBD sedang menyiapkan jalur baru dari Desa Sumanding, Kecamatan Kembang, menuju Desa Tempur. Proyek ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada jalan yang rawan.
Pembangunan jalur baru telah mencapai hampir lima kilometer dari total enam kilometer yang direncanakan. Pihak berwenang menargetkan penyelesaian dalam empat minggu ke depan.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengunjungi lokasi longsor pada sore 28 Maret untuk menilai kerusakan. Ia menekankan pentingnya pembersihan material longsor serta percepatan pembangunan jalur alternatif.
Selain membuka jalur baru, pemkab berkomitmen meningkatkan sistem peringatan dini bagi wilayah rawan. Masyarakat diminta tetap waspada, terutama pada musim hujan yang intens.
Selama periode hujan deras, daerah tebing dan lereng sering mengalami pergeseran tanah di titik yang berbeda. Hal ini mempersulit prediksi lokasi longsor secara tepat.
BPBD Jepara terus memantau kondisi tanah dengan menggunakan sensor curah hujan dan inspeksi lapangan. Tim mereka siap memberikan bantuan evakuasi bila diperlukan.
Penduduk desa melaporkan kerugian material rumah dan lahan pertanian akibat material longsor. Beberapa keluarga harus menunda kegiatan pertanian karena akses kebun terhalang.
Pemerintah daerah menyiapkan bantuan sosial sementara bagi keluarga terdampak, termasuk distribusi bahan pokok dan perbaikan infrastruktur ringan. Upaya ini diharapkan mengurangi beban ekonomi warga.
Pakar geologi dari Universitas Diponegoro menyatakan bahwa perubahan iklim dapat memperburuk intensitas hujan, meningkatkan frekuensi longsor di daerah bertebing. Mereka merekomendasikan penanaman vegetasi penahan tanah di lereng.
Sementara itu, organisasi non‑pemerintah setempat menggalang dana untuk penanaman kembali pohon di daerah rawan. Program tersebut diharapkan menstabilkan tanah dalam jangka panjang.
Masyarakat desa diimbau untuk tidak menyeberang area yang terlihat tidak stabil dan melaporkan tanda‑tanda pergerakan tanah kepada otoritas. Keamanan warga menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana.
Dengan jalur baru yang diproyeksikan selesai dalam sebulan, diharapkan akses ke Desa Tempur kembali normal dan kegiatan ekonomi dapat pulih. Namun, pemantauan berkelanjutan tetap diperlukan untuk menghindari kejadian serupa di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan