Media Kampung – 08 April 2026 | Penerbangan Lion Air yang dijadwalkan dari Bandara Internasional Sentani, Jayapura ke Manokwari pada Selasa (7/4/2026) mengalami penundaan panjang karena kondisi cuaca ekstrem di Bandara Domine Eduard Osok, Manokwari. Pesawat yang semula dijadwalkan lepas landas siang itu terpaksa dibatalkan setelah otoritas bandara menyatakan visibilitas tidak mencukupi untuk pendaratan.

Menurut Citra Mahesa, Kepala Departemen Komunikasi & CSR Bandara Sentani, penundaan terjadi akibat cuaca buruk di tujuan, dan pihak bandara belum menerima data manifest penumpang karena pesawat belum terbang. Ia menegaskan bahwa operasional bandara tetap memberikan layanan dasar seperti listrik, AC, air, dan fasilitas X‑ray meskipun jam operasional resmi berakhir pukul 17.30 WIT.

Citra menambahkan bahwa semua sumber daya manusia dan sarana akan tetap siaga hingga penerbangan terakhir berangkat, termasuk kemungkinan perpanjangan jam operasional bila maskapai mengajukan permohonan. Kebijakan ini diambil untuk memastikan keamanan penumpang dan kru serta kelancaran proses boarding ketika cuaca membaik.

Kapolsek Kawasan Bandara Sentani, IPTU Wajedi, mengonfirmasi bahwa pesawat tidak dapat mendarat di Manokwari karena jarak pandang yang sangat terbatas. Ia menyatakan bahwa keputusan pembatalan diambil setelah evaluasi teknis menunjukkan risiko pendaratan yang tidak dapat diatasi, dan menambahkan bahwa pesawat saat ini masih berada di apron Sentani menunggu instruksi lanjutan.

Wajedi menuturkan rencana untuk mengirimkan pesawat ke Manokwari pada Rabu pagi (8/4/2026) jika kondisi cuaca memungkinkan. Sementara itu, sekitar 60 penumpang yang berada dalam status transit diberikan akomodasi hotel sementara, sedangkan penumpang yang telah kembali ke kota asal tidak memerlukan tempat menginap.

General Manager Lion Air wilayah Jayapura, Agung, menjelaskan bahwa 184 penumpang yang seharusnya terbang pukul 10.55 WIT akan dijadwalkan kembali pada pukul 10.00 WIT keesokan harinya. Ia menegaskan tidak ada kompensasi uang karena pembatalan disebabkan oleh faktor cuaca, namun penumpang transit tetap menerima akomodasi hotel sesuai kebijakan maskapai.

Insiden ini terjadi bersamaan dengan peringatan dini hujan lebat yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk beberapa wilayah Indonesia pada Rabu (8/4/2026), termasuk Gorontalo dan DKI Jakarta. Peringatan tersebut menambah beban operasional maskapai dan otoritas bandara dalam menyesuaikan jadwal penerbangan.

Selain penerbangan, cuaca buruk juga menimbulkan gangguan di sektor maritim. Kapal penumpang Dharma Rucitra di Labuan Bajo mengalami tabrakan dengan dermaga akibat kondisi gelombang tinggi, meski semua penumpang selamat dan kapal harus menunda keberangkatan tiga jam. Kejadian ini menunjukkan dampak luas cuaca ekstrem terhadap transportasi di wilayah Indonesia timur.

Pengaruh cuaca ekstrem terhadap jaringan transportasi mengharuskan pihak terkait meningkatkan koordinasi antara maskapai, otoritas bandara, dan badan meteorologi. Langkah-langkah antisipatif seperti perpanjangan jam operasional, penempatan staf tambahan, dan penyediaan akomodasi darurat menjadi kunci menjaga keamanan serta kepuasan penumpang.

Dengan kondisi cuaca yang masih dipantau, penerbangan Lion Air ke Manokwari dijadwalkan kembali pada hari berikutnya, sementara otoritas bandara tetap berkomitmen memberikan layanan dasar hingga semua penumpang dapat melanjutkan perjalanan. Situasi ini menggambarkan tantangan operasional di wilayah dengan cuaca tidak menentu, sekaligus menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dalam sektor transportasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.