Media Kampung – 05 April 2026 | Kali di wilayah Cipayung, Tangerang Selatan meluap setelah hujan deras, menggenangi dua titik permukiman pada sore hari.
Ketinggian air tercatat sekitar 30 cm, menyusuri jalan utama dan mengharuskan kendaraan melaju perlahan.
Hujan deras yang mulai mengguyur sejak malam sebelumnya memiliki intensitas tinggi, menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
BMKG mencatat total curah hujan mencapai 120 mm dalam 12 jam terakhir di wilayah tersebut.
Luapan terjadi karena aliran Sungai Cipayung tidak mampu menampung volume air tambahan, sehingga air meluap ke daerah pemukiman.
Warga melaporkan air masuk ke rumah, mengganggu aktivitas harian serta menyumbat selokan dan saluran pembuangan.
Tim SAR serta Dinas Penanggulangan Bencana setempat segera turun ke lokasi untuk membantu evakuasi dan penanggulangan awal.
“Kami terus memantau ketinggian air dan menyiapkan bantuan logistik bagi warga terdampak,” kata Kepala Dinas Penanggulangan Bencana Tangerang Selatan, Ahmad Rizal.
Pengungsi sementara ditempatkan di balai desa dan sekolah terdekat, dengan pasokan makanan dan air bersih yang disalurkan secara rutin.
Pihak kepolisian mengatur arus lalu lintas di jalur utama agar kendaraan dapat melintas dengan aman.
Masyarakat diminta untuk tidak menyeberang sungai dengan kendaraan pribadi dan mengikuti instruksi petugas lapangan.
Kejadian ini menambah daftar banjir musiman yang sering melanda wilayah pesisir Tangerang Selatan dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah kota telah menyusun rencana jangka panjang untuk memperbaiki jaringan drainase serta memperlebar kanal sungai guna mengurangi risiko serupa.
Kondisi saat ini tetap dipantau, dan warga diharapkan tetap waspada terhadap potensi kenaikan air lebih lanjut.
Warga setempat, Budi Santoso, mengaku air masuk ke ruang tamu rumahnya sejak pukul 03.00 WIB dan menyebabkan kerusakan pada perabotan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Nasional menunjukkan peningkatan frekuensi banjir di wilayah Jabodetabek selama lima tahun terakhir.
Ahli hidrologi Universitas Indonesia, Dr. Siti Mahmudah, menilai bahwa perubahan iklim memperburuk intensitas hujan ekstrem di Pulau Jawa, meningkatkan risiko luapan sungai.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan