Media Kampung – 05 April 2026 | Banjir bandang kembali melanda wilayah Aceh Tengah pada sore hari kemarin, menenggelamkan jalan utama dan menyebabkan satu jembatan utama runtuh. Petugas darurat segera dikerahkan untuk mengevakuasi warga dan membuka akses ke daerah yang terputus.
Hujan deras yang berlangsung sejak dini hari meningkatkan debit sungai Alas yang meluap hingga mencapai ketinggian lebih dari dua meter di beberapa titik. Menurut data Badan Meteorologi, curah hujan daerah tersebut mencapai 150 milimeter dalam 12 jam terakhir.
Jembatan yang ambruk berada di lintasan Jalan Raya Bener Meriah–Lhokseumawe, menghubungkan tiga desa sekaligus memutuskan alur transportasi barang dan manusia. Kerusakan pada struktur jembatan diperkirakan memerlukan waktu lebih dari satu minggu untuk perbaikan total.
Sebanyak lima desa, termasuk Desa Pulo Aceh, Desa Lhok Sialang, dan Desa Baringin, kini terisolasi karena jalan masuk terputus dan sebagian wilayahnya terendam air setinggi satu meter. Total sekitar 1.200 penduduk, atau lebih dari 300 rumah tangga, kehilangan akses ke layanan dasar seperti listrik dan pasokan air bersih.
Tim SAR gabungan TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiapkan perahu karet serta helikopter untuk mengangkut korban ke posko evakuasi terdekat. Operasi penyelamatan berlangsung 24 jam nonstop, dengan prioritas pada warga lansia dan anak‑anak.
Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Aceh menyalurkan bantuan makanan pokok, air minum, serta obat‑obatan dasar ke posko sementara yang dibangun di balai desa masing‑masing. Sementara itu, tenda darurat dan generator listrik dipasang untuk mengatasi kekurangan tempat tinggal sementara.
Kepala Dinas Penanggulangan Bencana Provinsi Aceh, Ahmad Syarif, menyatakan, “Kami terus memantau kondisi banjir dan berkoordinasi dengan semua pihak untuk mempercepat pemulihan infrastruktur serta menjamin keamanan warga.” Dia menambahkan bahwa prioritas utama adalah mengembalikan jalur transportasi dan memastikan distribusi bantuan tidak terhambat.
Seorang warga Desa Pulo Aceh, Siti Aminah, menggambarkan situasi dengan berkata, “Air tiba‑tiba naik tinggi, kami terpaksa meninggalkan barang‑barang penting dan menunggu bantuan di tempat terbuka.” Ia berharap proses evakuasi dapat selesai secepatnya agar keluarga dapat kembali ke rumah.
Aceh secara historis rentan terhadap banjir bandang karena topografi pegunungan yang curam dan curah hujan tinggi pada musim penghujan. Kejadian serupa terjadi pada tahun 2020 dan 2022, yang juga menimbulkan kerusakan infrastruktur signifikan dan menambah beban pemulihan daerah.
Pemerintah daerah kini memperkuat sistem peringatan dini dengan pemasangan sensor aliran air di tiga sungai utama serta meningkatkan koordinasi antar‑instansi. Rencana jangka panjang mencakup pembangunan kembali jembatan yang tahan banjir dan rehabilitasi jalan alternatif untuk mengurangi risiko terisolasinya desa.
Meskipun upaya penyelamatan telah berjalan, hambatan utama tetap pada kondisi jalan yang rusak, tanah longsor di beberapa daerah, dan keterbatasan sarana transportasi air. Hal ini memperlambat distribusi bantuan dan menambah beban logistik bagi tim respon.
Dengan situasi yang masih kritis, otoritas menegaskan komitmen untuk terus memantau perkembangan banjir dan mempercepat proses rehabilitasi. Masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti arahan resmi demi mengurangi dampak lebih lanjut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan