Media Kampung – 11 April 2026 | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pembukaan acara Lebaran Betawi 2026 pada Senin, 15 April 2026, di Lapangan Banteng. Acara tersebut menandai pelaksanaan perayaan tradisional Betawi yang diintegrasikan dalam kalender resmi kota.

Upacara dimulai dengan pelekatan bendera DKI, diikuti oleh orasi singkat gubernur yang menekankan pentingnya melestarikan nilai-nilai leluhur. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan tradisi Betawi sebagai identitas bersama.

Sejumlah elemen budaya Betawi, termasuk ondel‑ondel, tari topeng, dan musik gambang kromong, dipentaskan secara berurutan. Penampilan tersebut menampilkan partisipasi aktif warga setempat, komunitas seni, serta pelajar.

Gubernur menyoroti peran pemerintah daerah dalam menyediakan fasilitas dan dukungan finansial bagi kelompok budaya. “Kita harus menciptakan ekosistem yang memungkinkan generasi muda belajar dan menghidupkan kembali warisan budaya,” ujarnya.

Pengunjung diperkirakan mencapai 10.000 orang, mencakup warga Jakarta, turis domestik, dan perwakilan lembaga kebudayaan. Antusiasme publik terlihat dari antrian panjang di stan kuliner khas Betawi.

Pemerintah DKI juga meluncurkan program beasiswa seni untuk anak muda yang ingin mendalami musik tradisional. Program tersebut akan dibiayai melalui dana khusus kebudayaan tahun anggaran 2026.

Lebaran Betawi 2026 merupakan upaya kolaboratif antara Dinas Kebudayaan, komunitas Betawi, serta sponsor swasta. Kerja sama ini diharapkan meningkatkan eksposur budaya lokal di mata nasional dan internasional.

Pakar budaya, Dr. H. Hadi Sulaiman, menilai acara ini sebagai langkah strategis memperkuat identitas pluralistik Jakarta. Ia menambahkan bahwa pelestarian tradisi harus diiringi edukasi di sekolah.

Sekolah-sekolah di Jakarta telah memasukkan modul tentang sejarah Betawi dalam kurikulum, termasuk praktek gamelan dan pembuatan makanan tradisional. Upaya ini selaras dengan kebijakan pemerintah tentang pelestarian budaya takbenda.

Dalam konteks globalisasi, penekanan pada warisan lokal menjadi penting untuk menjaga keragaman budaya. Lebaran Betawi 2026 menjadi contoh konkret bagaimana kota besar dapat memanfaatkan acara budaya untuk menyatukan masyarakat.

Gubernur menutup acara dengan harapan bahwa tradisi Betawi tidak hanya diperingati pada hari khusus, melainkan menjadi bagian rutin kehidupan sehari-hari. Ia mengajak semua pihak untuk terus mendukung program pelestarian yang telah direncanakan.

Acara diakhiri dengan pesta kembang api dan bazaar produk kreatif Betawi, menandai keberhasilan pelaksanaan upaya bersama. Pemerintah berkomitmen melanjutkan kegiatan serupa pada tahun-tahun mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.