Media Kampung – 01 April 2026 | Puter Kayun, ritual tahunan yang diadakan warga Kelurahan Boyolangu, Banyuwangi pada tanggal 10 Syawal, kembali dilaksanakan dengan antusiasme tinggi. Acara ini menandai kembali perjalanan historis menuju Pantai Watu Dodol.

Tradisi tersebut berakar pada janji nenek moyang yang membuka jalur jalan di daerah utara Banyuwangi. Menurut keterangan Ketua Panitia Risyal Alfani, napak tilas dimaksudkan untuk menghormati Ki Buyut Jakso, tokoh legendaris yang konon menuntun pembuatan jalan tersebut.

Ki Buyut Jakso diyakini sebagai sosok pertama yang berhasil membuka akses ke wilayah yang kini dikenal sebagai Watu Dodol, yang berarti “batu yang dibongkar”. Cerita itu berawal pada masa kolonial Belanda ketika pengerukan batu menjadi kendala utama.

Sejak itu, keturunan Ki Jakso mewarisi kewajiban melakukan perjalanan ke Watu Dodol sebagai bentuk penghormatan. Praktik ini dipertahankan selama puluhan generasi, menjadikan Puter Kayun simbol keberlanjutan budaya lokal.

Pada pagi hari, deretan dokar hias siap menjemput rombongan peserta. Kusir senior Abdul Mufid, berusia 65 tahun dan telah mengemudi sejak 1971, menjadi salah satu tokoh yang paling dikenal dalam acara tersebut.

“Saya selalu ikut sejak dulu, dan yang paling penting bagi saya adalah menapaki jejak nenek moyang,” ujar Abdul Mufid. Ia menambahkan bahwa persiapan dokar meliputi penghiasan warna-warni yang menambah semarak suasana.

Pada tahun ini, rute tradisional tidak dapat mencapai Watu Dodol karena kemacetan berat di jalur menuju Pelabuhan Ketapang. Sebagian peserta mengganti dokar dengan sepeda motor untuk menembus kemacetan tersebut.

Penggunaan sepeda motor menandai adaptasi praktis, namun tetap mempertahankan esensi napak tilas. Panitia menyatakan bahwa tujuan utama tetap mengingatkan warga akan asal-usul dan nilai sejarah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata banyuwangi, Hartono, menegaskan peran Puter Kayun dalam pelestarian budaya daerah. Ia menambahkan bahwa tradisi ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Sebelum puncak acara, warga Boyolangu menggelar serangkaian kegiatan budaya tradisional, dimulai dengan Lebaran Kopat pada 7 Syawal. Kegiatan tersebut diikuti oleh tradisi Kebo‑keboan pada 9 Syawal, memperkuat ikatan sosial sebelum perayaan utama.

Selama acara, para peserta juga melakukan selamatan bersama, memperkuat rasa kebersamaan. Makanan bersama menjadi bagian penting dalam mempererat komunitas.

Meskipun rute perjalanan tahun ini terbatas, antusiasme warga tetap tinggi. Mereka berharap kondisi lalu lintas akan membaik sehingga Puter Kayun dapat kembali menempuh seluruh jalur historis di masa mendatang.

Puter Kayun tetap menjadi simbol identitas Boyolangu, menghubungkan generasi lama dengan generasi muda melalui ritual yang konsisten. Upaya pelestarian ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat luas.

Tradisi Puter Kayun terus dijalankan setiap 10 Syawal, memperlihatkan komitmen warga Boyolangu dalam menjaga warisan budaya. Ke depannya, harapan besar menanti agar tradisi ini tetap hidup dan semakin dikenal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.