Media Kampung – 01 April 2026 | Klandestin, tokoh fiksi seorang penyair anti‑kemapanan, menjadi fokus artikel panjang di Kumparan.

Karakter ini mencerminkan kegelisahan intelektual di tengah masyarakat yang mengutamakan materi daripada nilai budaya.

Dalam narasinya, Klandestin memilih mengisolasi diri di sebuah menara yang dibangun dari tumpukan buku.

Meski terkadang memeriksa WhatsApp dan timeline Twitter, ia tetap merasakan kehampaan yang mendalam.

Ia menolak menjadi bagian dari sistem yang menilai keberhasilan semata-mata dari ukuran ekonomi.

Keyakinan tersebut berakar pada kutipan Susan Wiggs, “you’re never alone when you’re reading a book”.

Pembacaan itu menjadi satu‑satunya pelipur lara ketika dunia luar terasa rapuh.

Pada suatu hari, ia menemukan artikel Riduan Sitomorang tentang Sumpah Pemuda di Geotimes, 24 September 2017.

Artikel tersebut menegaskan peran sastra sebagai pendorong identitas kebangsaan, memicu semangat Klandestin untuk menulis.

Ia menyadari keinginannya menjadi sastrawan, meski tidak memiliki penghasilan tetap.

Kondisi pengangguran menambah beban, karena peluang kerja bagi penulis di Indonesia masih sangat terbatas.

Definisi pekerjaan di negara tersebut masih dipandang hanya mencakup profesi formal seperti ASN, dokter, atau pilot.

Akibatnya, profesi sastrawan seringkali terpinggirkan dan tidak diakui sebagai pekerjaan layak.

Klandestin menolak mengadopsi standar tersebut, memilih tetap menulis dalam kesunyian.

Ia menemukan penerbit independen yang bersedia mencetak karyanya, melawan dominasi penerbit komersial.

Penerbit independen tersebut memberi ruang bagi suara kritis yang terpinggirkan oleh kapitalisme.

Setelah karya pertama terbit, ia menyebutnya sebagai kelahiran “bayi ideologis” pertama.

Walaupun hidupnya jauh dari kesejahteraan material, ia merasa telah menemukan makna eksistensial.

Bagi Klandestin, hidup bukan sekadar bernapas, melainkan memiliki kebebasan mengatur tujuan pribadi.

Ia menolak menilai dirinya melalui ukuran materi, melainkan melalui kontribusi ide pada masyarakat.

Klandestin percaya bahwa sastra dapat menggelitik penguasa dan menyadarkan publik tentang ketidakadilan.

Ia mencontohkan peran kitab suci yang mengubah kehidupan, menganggap sastra memiliki kekuatan serupa.

Dalam momen refleksi, ia mengingat kata Pramoedya Ananta Toer, “orang boleh pandai setinggi langit namun selama tak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan arus pusaran sejarah”.

Kutipan tersebut memperkuat tekadnya untuk terus menulis meski diabaikan pasar besar.

Sahabat‑sahabatnya memberikan bantuan keuangan terbatas, memungkinkan ia membeli buku dan kebutuhan dasar.

Ia membuat daftar belanja yang mencakup buku, pakaian, serta makanan, namun dana yang tersedia tidak mencukupi.

Kondisi defisit keuangan memaksanya menimbang prioritas antara kebutuhan hidup dan produksi karya.

Dalam proses ini, ia mengingat nasihat Tan Malaka, “selama toko buku ada, pustaka bisa dibentuk kembali”.

Ia memutuskan mengurangi pengeluaran non‑esensial demi menjaga keberlangsungan ruang baca pribadi.

Keputusan tersebut mencerminkan definisi hidup yang lebih luas, bukan sekadar akumulasi harta.

Klandestin tetap menegaskan bahwa kreativitas dapat menjadi alat perubahan sosial yang efektif.

Ia menolak menjadi “hamba uang” dan menolak memposisikan diri sebagai bagian dari mesin kapitalis.

Pengalaman hidupnya menggambarkan konflik antara nilai budaya dan tekanan ekonomi modern.

Dengan menulis secara mandiri, ia berharap menginspirasi generasi muda untuk menghargai sastra.

Meski tantangan tetap besar, Klandestin menunjukkan bahwa keberanian menolak norma dapat menghasilkan karya bernilai.

Artikel ini menutup dengan penegasan bahwa keberlangsungan sastra memerlukan dukungan moral, bukan sekadar finansial.

Klandestin terus menulis dalam kesunyian, mempercayai bahwa suaranya akan tetap terdengar dalam sejarah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.