Media Kampung – 10 Maret 2026 | Denpasar, 10 Maret 2026 – Kasanga Festival 2026 kembali menjadi sorotan utama budaya Bali dengan menampilkan parade ogoh‑ogoh yang megah serta rangkaian seni tradisional yang memukau. Acara tahunan ini, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Denpasar, memadukan elemen karnaval, kompetisi kreatif, dan pertunjukan seni Bali dalam satu panggung besar, menarik ribuan penonton lokal maupun wisatawan mancanegara.

Parade Ogoh‑Ogoh: Kompetisi Ketat dan Penilaian Profesional

Parade ogog‑ogoh menjadi inti utama Kasanga Fest 2026. Lebih dari dua puluh banjar sekolah menyiapkan kreasi mereka, namun hanya enam besar yang berhak melaju ke tahap final pawai jalan. Penilaian dilakukan secara on‑the‑spot oleh panel juri berpengalaman, dipimpin oleh I Gede Anom Ranuara, seorang guru seni dan budaya yang dikenal dengan julukan “Guru Anom”.

Menurut pernyataan Guru Anom, penilaian dibagi menjadi tiga komponen utama: anatomi, proporsi, dan psikoplastis, dengan bobot 35% khusus untuk penampilan pawai. “Kami menilai tidak hanya keindahan statis, melainkan juga dinamika gerakan, koordinasi tarian, serta kesesuaian dengan estetika karnaval,” ujarnya.

Wit Kawit: Ogoh‑Ogoh Pemenang Pertama

Ogoh‑ogoh karya ST Dharma Castra, Banjar Tengah Sidakarya, dengan tema “Wit Kawit” berhasil mengantongi posisi I. Juri menilai bahwa ogoh‑ogoh ini memiliki anatomi yang seimbang, angle yang tepat, serta proporsi yang kuat. Penampilannya saat pawai juga dianggap sangat atraktif, menampilkan gerakan yang sinkron dengan alunan musik tradisional Bali.

“Dari segi anatomi, angle, dan proporsi, ogoh‑ogoh ini memang bagus. Penampilannya saat pawai sangat atraktif, sehingga layak menjadi juara pertama,” tambah Guru Anom.

Saingan Ketat: Posisi Kedua dan Ketiga

  • Posisi II diraih oleh ogoh‑ogoh ST Sukarela, Banjar Kepisah Pedungan.
  • Posisi III didapatkan oleh ogog‑ogoh ST Swadharmita, Banjar Ceramcam Kesiman.

Selain tiga besar, juri juga mengumumkan juara harapan (runner‑up) dan juara favorit. ST Cantika, Banjar Sedana Mertha Ubung, yang menampilkan ikon Dewi Saraswati dengan tema “Banyu Pinaruh”, berhasil meraih juara favorit meski tidak masuk enam besar karena permasalahan kecil pada posisi satu kaki Dewi Saraswati yang dianggap “nengkleng” (tidak seimbang).

“Kaki Dewi Saraswati tidak boleh nengkleng. Kami khawatir anak‑anak yang melihat ogoh‑ogoh ini akan memprotes representasi yang tidak tepat,” jelas Guru Anom, menambahkan bahwa ia telah berkoordinasi dengan arsitek ogoh‑ogoh untuk memastikan anatomi yang akurat.

Elemen Seni Bali yang Mewarnai Festival

Selain kompetisi ogoh‑ogoh, Kasanga Fest menampilkan pertunjukan seni Bali klasik, termasuk tari kecak, gamelan, dan pertunjukan wayang kulit yang diadaptasi menjadi cerita modern tentang semangat kebersamaan. Seluruh rangkaian ini dipadukan dalam atmosfer karnaval yang hidup, dengan lampu sorot, kostum warna-warni, dan alunan musik kontemporer.

Para peserta pawai tidak hanya menampilkan fragmen tari pada titik‑titik tertentu; mereka harus mengeksekusi tarian secara kontinu, menyesuaikan ritme dengan alunan gamelan, sehingga penilaian karnaval menjadi lebih kompleks. Juri menilai persentase tarian yang ditarikan serta kemampuan ogoh‑ogoh untuk menjadi pusat pementasan.

Resonansi di Seluruh Pulau Bali dan Indonesia

Kasanga Festival 2026 bukan hanya menjadi ajang kompetisi lokal. Festival ini turut menjadi magnet bagi media nasional dan internasional, menegaskan peran Bali sebagai destinasi budaya yang dinamis. Di samping Denpasar, beberapa daerah lain seperti Kediri (Caka Fest) dan Tabanan (Festival Singasana III) juga menggelar acara serupa, menampilkan 15 ogoh‑ogoh dengan drama teatrikal, meski detail lengkap belum tersedia.

Keberhasilan Kasanga Fest 2026 menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, seniman tradisional, serta masyarakat. Dengan menonjolkan nilai estetika, etika, dan edukasi, festival ini berhasil mengangkat warisan budaya ke level yang lebih modern tanpa mengorbankan keasliannya.

Secara keseluruhan, parade ogoh‑ogoh yang spektakuler, penilaian yang ketat, serta perpaduan seni tradisional membuat Kasanga Festival 2026 menjadi salah satu peristiwa budaya terbesar tahun ini. Diharapkan edisi selanjutnya akan terus menginspirasi generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Bali dengan kreativitas yang tak terbatas.