Hampir semua warga Medan mengenal Jalan Jamin Ginting sebagai jalur utama menuju Berastagi dan Kabanjahe. Jalan ini juga menjadi salah satu urat nadi lalu lintas kota. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, perhatian publik kerap tertuju pada sebuah patung gagah yang berdiri di titik awal jalan tersebut.
Patung Letnan Jenderal Djamin Ginting berdiri tegak di persimpangan kawasan Medan Baru, dikelilingi hiruk-pikuk kota. Di tengah lampu merah, suara klakson, dan lalu lalang kendaraan, monumen ini menjadi penanda sejarah yang sering dilewati, tetapi jarang benar-benar dipahami kisahnya.
Tak banyak yang tahu, patung ini menyimpan perjalanan panjang sebelum akhirnya berdiri di ruang publik. Berikut lima fakta unik Patung Letnan Jenderal Djamin Ginting yang jarang diketahui.
1. Berawal dari Gagasan Keluarga
Ide pembangunan patung ini tidak berasal dari pemerintah, melainkan dari keluarga besar Djamin Ginting. Putrinya, Riahna Ginting, terinspirasi setelah melihat Patung Jenderal Sudirman di Jakarta. Ia merasa sang ayah, yang jasanya diakui negara, layak mendapatkan penghormatan serupa di Medan.
Gagasan tersebut dibicarakan bersama keluarga, termasuk dengan sang ibu, Ny. Likas Tarigan. Tujuannya sederhana, agar generasi muda tak hanya mengenal nama Jamin Ginting sebagai nama jalan, tetapi juga memahami sosok dan perjuangannya.
2. Sempat Tersimpan Enam Tahun di Bandung
Patung Djamin Ginting sebenarnya telah rampung sekitar 2015โ2016. Namun, persoalan perizinan dan penentuan lokasi di Medan membuat patung ini belum bisa ditempatkan.
Akibatnya, patung tersebut โmengendapโ di sebuah gudang di Bandung selama kurang lebih enam tahun. Beberapa opsi lokasi, termasuk Bandara Kualanamu, sempat dipertimbangkan, tetapi kembali terkendala izin. Baru pada 2021, patung akhirnya mendapat lampu hijau untuk ditempatkan di titik nol Jalan Jamin Ginting.
3. Dibiayai Penuh oleh Keluarga
Pembangunan patung ini tidak menggunakan dana APBD maupun APBN. Seluruh biaya berasal dari dana pribadi keluarga besar Djamin Ginting, dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp2 miliar.
Setelah diresmikan pada Juni 2022, patung ini kemudian dihibahkan kepada Pemerintah Kota Medan. Dengan demikian, monumen tersebut resmi menjadi aset publik dan bagian dari sejarah kota.
4. Berdiri di Kilometer Nol Jalan Pahlawan Terpanjang
Lokasi patung berada tepat di Kilometer Nol Jalan Letnan Jenderal Jamin Ginting. Jalan ini menghubungkan Kota Medan dengan Tanah Karo, daerah asal sang jenderal.
Menariknya, Jalan Jamin Ginting tercatat oleh MURI sebagai jalan nasional terpanjang di Indonesia yang menggunakan nama pahlawan, dengan panjang sekitar 80 kilometer hingga Kabanjahe. Patung ini berdiri persis di awal jalan yang memegang rekor tersebut.
5. Karya Seniman Bali Lulusan ITB
Patung Djamin Ginting dipahat oleh I Ketut Winata, seniman asal Bali lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Proses pengerjaan memakan waktu sekitar tujuh bulan dan dilakukan di Bandung.
Sosok Djamin Ginting digambarkan mengenakan pakaian dinas upacara lengkap, dengan detail atribut yang dibuat sangat teliti. Representasi ini bertujuan menghadirkan figur Djamin Ginting secara nyata, bukan sekadar nama dalam buku sejarah.
Patung Letnan Jenderal Djamin Ginting bukanlah monumen yang lahir secara instan. Ia melalui proses panjang, mulai dari gagasan keluarga, persoalan birokrasi, hingga akhirnya berdiri di ruang publik.
Di tengah padatnya lalu lintas dan ritme cepat Kota Medan, patung ini menjadi pengingat sunyi bahwa nama besar di papan jalan pernah menjadi sosok nyata, dengan perjalanan hidup yang ikut membentuk sejarah Sumatera Utara dan Indonesia. (balqis)








