Media Kampung – 06 April 2026 | Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat kenaikan tajam pada perdagangan Senin, 6 April 2026, dengan harga mencapai Rp242 per lembar, menambah 6,14% dibandingkan penutupan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadikan BUMI pemimpin penguatan indeks Bisnis‑27, sementara indeks secara keseluruhan hanya melemah tipis 0,01% menjadi 481,69.
Pada pembukaan perdagangan, BUMI sudah menunjukkan performa positif dengan lonjakan 2,63% hingga Rp234. Penguatan awal ini turut didorong oleh permintaan beli asing yang signifikan.
Kenaikan BUMI diikuti oleh saham Barito Pacific (BRPT) yang naik 5,08% ke Rp1.345 dan Vale Indonesia (INCO) yang naik 3,18% ke Rp5.675. Sektor tambang dan energi tampak menjadi pendorong utama pergerakan pasar hari itu.
Saham lain seperti PT Bukit Asam (PTBA) dan PT Dharma Satya Nusantara (DSNG) juga mencatat kenaikan masing‑masing 2,41% dan 1,80%. Sementara saham perbankan besar tetap stabil dengan sedikit kenaikan.
Di sisi lain, beberapa saham mengalami tekanan, antara lain Mitra Adiperkasa (MAPI) turun 4,98% ke Rp1.240, Alamtri Minerals (ADMR) turun 3,72% ke Rp1.810, dan Bank Negara Indonesia (BBNI) turun 1,62% ke Rp3.640.
Data BEI mencatat net foreign sell sebesar Rp4,77 triliun pada pekan 30 Maret–2 April, menandakan aliran keluar dana asing secara keseluruhan. Namun, BUMI tetap berhasil menarik pembelian dari investor asing, memperkuat posisinya di indeks.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai, ‘Momentum bullish BUMI didukung oleh volume beli yang kuat dan prospek harga komoditas yang stabil,’ sambil menambahkan bahwa saham tersebut berpotensi melanjutkan tren naik.
Chory Agung menekankan pentingnya level support teknikal di 6.950 untuk indeks IHSG, yang bila terjaga dapat membuka ruang rebound hingga 7.150‑7.200. Jika support tersebut terpeluk, BUMI diperkirakan akan tetap berada di zona beli.
Pasar saham Indonesia masih dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Iran, yang mendorong sentimen risk‑off di kalangan investor global. Tekanan tersebut memperparah penurunan rupiah, yang diproyeksikan dapat menyentuh Rp17.500 per dolar pada akhir 2026.
Penguatan dolar AS dan aksi jual asing yang masif dapat menurunkan IHSG di bawah level 7.000 jika tidak ada intervensi kebijakan. Sebaliknya, kebijakan penghematan nasional pemerintah, termasuk efisiensi anggaran dan WFH ASN, diharapkan menurunkan beban fiskal dan memberi dukungan pada pasar.
Otoritas Jasa Keuangan dan Self‑Regulatory Organization telah menyelesaikan empat agenda transparansi pasar modal, antara lain publikasi kepemilikan saham di atas 1% dan peningkatan batas minimum free float menjadi 15%. Langkah ini diyakini meningkatkan investabilitas dan menarik aliran dana asing ke saham-saham dengan likuiditas tinggi seperti BUMI.
Meskipun demikian, risiko konsentrasi kepemilikan tetap menjadi perhatian, terutama bagi perusahaan pertambangan yang belum memenuhi kriteria MSCI secara penuh. Investor disarankan memantau perkembangan regulasi dan kebijakan moneter sebelum menambah eksposur.
Dengan performa harga yang kuat dan dukungan beli asing, BUMI berada pada posisi yang menguntungkan di tengah pasar yang beragam. Ke depannya, kinerja saham ini akan sangat dipengaruhi oleh harga batu bara, kebijakan energi, serta stabilitas nilai tukar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan