Media Kampung – 02 April 2026 | Bank Mandiri (BMRI) mencatat penurunan nilai saham sebesar 24% sejak awal tahun, memicu pertanyaan apakah kini saat yang tepat untuk menambah posisi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat 1,93% pada perdagangan terakhir, meski investor asing tetap menjual bersih sekitar Rp163 miliar.
Penguatan pasar global yang didorong meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta kenaikan ekspor Asia menambah sentimen bullish pada bursa Indonesia.
Secara teknikal, IHSG menemukan dukungan di kisaran 7.025‑7.130 dan menghadapi resistance pada level 7.200‑7.300, menciptakan ruang bagi saham perbankan untuk berbalik.
Data pasar menunjukkan bank-bank besar seperti BMRI, BBRI, dan BBNI menjadi sasaran penjualan bersih terbesar oleh pemodal asing dalam minggu terakhir.
Analisis BNI Sekuritas menilai BMRI layak dipertimbangkan dengan strategi beli spekulatif pada zona 5.800‑6.200, menetapkan cut‑loss di bawah 5.500 dan target jangka menengah 7.200 pada 2026.
Fundamentally, BMRI mencatat pertumbuhan kredit bersih 8,5% YoY pada kuartal terakhir dan menurunkan rasio NPL ke 1,9%, memperkuat profil risiko bank.
Rasio kecukupan modal tetap berada di atas 18%, menandakan kemampuan bank untuk menyerap guncangan ekonomi tanpa mengorbankan likuiditas.
Faktor makro seperti ekspor Indonesia yang tumbuh 12% YoY dan stabilitas nilai tukar rupiah memberi dukungan tambahan bagi profitabilitas sektor perbankan.
Jika dibandingkan, BBRI dan BBNI juga mengalami penurunan YTD masing‑masing 18% dan 20%, namun keduanya menunjukkan margin bunga bersih yang lebih tinggi.
Potensi katalis bagi BMRI meliputi percepatan transformasi digital, kebijakan stimulus pemerintah, dan ekspektasi suku bunga Bank Indonesia yang tetap moderat.
Namun, risiko tetap ada, termasuk tekanan pada kualitas kredit bila pertumbuhan ekonomi melambat, serta dampak kebijakan moneter global yang dapat meningkatkan biaya pendanaan.
Dengan harga saham berada di sekitar Rp5.800, target rata‑rata analis untuk akhir 2026 berada di Rp7.200, mengimplikasikan potensi upside lebih dari 20% bila asumsi makro tetap stabil.
Secara keseluruhan, penurunan BMRI selama tahun berjalan menciptakan peluang bagi investor yang siap menanggung volatilitas, namun keputusan harus didasarkan pada penilaian risiko yang matang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan