Jakarta – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali tertekan pada sesi I perdagangan Kamis, 21 Januari 2026. Hingga perdagangan siang, saham emiten pertambangan batu bara tersebut tercatat turun 4,66 persen dan diparkir di level Rp 368 per saham.
Tekanan jual tercermin dari tingginya aktivitas transaksi. Sebanyak 5,45 miliar saham BUMI diperdagangkan dengan frekuensi 170.866 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 2,05 triliun. Volume besar tersebut menunjukkan kuatnya aksi lepas saham di pasar reguler.
Berdasarkan data dari aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BUMI mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp 596,4 miliar, tertinggi di antara saham-saham lain yang mengalami tekanan jual pada sesi tersebut.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (21/1/2026), saham BUMI juga ditutup melemah 6,76 persen, dengan aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp 456,04 miliar.
Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) telah mengingatkan risiko tekanan lanjutan apabila harga saham BUMI turun menembus level tertentu. Dalam catatan analisnya, BRIDS mewanti-wanti pergerakan saham BUMI jika jatuh di bawah area 382.
Tekanan pada saham BUMI juga sejalan dengan perubahan struktur kepemilikan saham. Treasure Global Investments Limited melaporkan telah melepas 18,19 miliar saham BUMI. Dengan transaksi tersebut, kepemilikan Treasure Global menyusut menjadi 11,81 miliar saham atau setara 3,18 persen.
Sebelumnya, Treasure Global tercatat menggenggam sekitar 30 miliar saham atau 8,08 persen dari total saham BUMI. Dalam keterbukaan informasi, perusahaan menyebutkan transaksi penjualan dilakukan pada harga Rp 380 per saham dengan nilai total mencapai Rp 6,91 triliun.
“Jenis transaksi penjualan 18.195.000.000 saham biasa. Tujuan transaksi shareholder restructuring,” demikian keterangan Treasure Global dalam laporan kepada publik.
Berdasarkan arsip pemberitaan, struktur pemegang saham Treasure Global Investments Limited terdiri dari PT Aswana Pinasthika Investasi dengan porsi kepemilikan 16,15 persen yang dikendalikan oleh Agoes Projosasmito, serta Mach Energy (Singapore) Pte Ltd dengan porsi 83,85 persen yang dikendalikan oleh Anthoni Salim.
Bagi investor, tekanan beruntun pada saham BUMI mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pasar terhadap emiten pertambangan tersebut, terutama di tengah aksi jual besar dan perubahan kepemilikan saham. Ke depan, pergerakan saham BUMI masih akan dipengaruhi oleh respons pasar terhadap restrukturisasi pemegang saham serta sentimen sektor pertambangan secara umum.

















Tinggalkan Balasan