Media Kampung – Prancis saat ini berada dalam situasi yang mengkhawatirkan dengan beban utang yang tinggi dan penurunan kepercayaan pasar. Dalam laporan terbaru, utang publik Prancis mencapai rekor USD 4 triliun, setara dengan 119 persen dari produk domestik bruto (PDB), yang merupakan rasio tertinggi sejak setelah Perang Dunia II.
Protes nasional terhadap tingginya biaya hidup yang terjadi di Paris pada Sabtu lalu (17/10) semakin memperburuk situasi ini. Kerusuhan tersebut menunjukkan ketidakpuasan masyarakat yang meluas terhadap kondisi ekonomi yang semakin sulit. Menurut Mujtaba Rahman, Managing Director untuk Eropa di Eurasia Group, Prancis menghadapi krisis demokrasi liberal dan krisis pengelolaan fiskal yang parah, serta ketidakpuasan di kalangan generasi muda.
Lonjakan imbal hasil obligasi yang terjadi saat ini, yang mencapai level tertinggi dalam 24 tahun, mengindikasikan bahwa pasar obligasi mulai memperhitungkan kemungkinan gagal bayar utang. Hal ini mirip dengan kondisi di Inggris, di mana investor obligasi, yang dikenal sebagai bond vigilantes, menekan negara untuk memperbaiki kebijakan fiskalnya.
Di tengah ketidakpastian ini, Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, telah mengusulkan anggaran untuk tahun 2027 yang bertujuan menurunkan defisit anggaran menjadi 5 persen dari PDB. Namun, jika anggaran ini tidak disetujui oleh Majelis Nasional, biaya pembayaran bunga utang berpotensi melonjak, dan Prancis mungkin terpaksa meminta bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF) serta Bank Sentral Eropa (ECB).
Mujtaba Rahman menyatakan bahwa ketidakpercayaan pasar lebih dipicu oleh faktor politik ketimbang ekonomi. Investor khawatir bahwa kandidat dari sayap kanan ekstrem dan sayap kiri ekstrem yang bersaing dalam pemilihan presiden mendatang tidak mampu mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menekan defisit anggaran, yang dapat memperburuk kondisi fiskal Prancis.
Situasi ini menciptakan tantangan besar bagi pemerintahan Prancis, yang harus menghadapi tidak hanya beban utang yang mengkhawatirkan, tetapi juga ketidakpuasan sosial yang semakin meningkat.












