Media Kampung – Defisit anggaran Amerika Serikat diperkirakan mencapai USD 1,99 triliun per September 2026, yang setara dengan Rp 35.873,7 triliun berdasarkan kurs Rp 18.027 per dolar AS. Angka ini mencerminkan peningkatan sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar USD 1,78 triliun.
Menurut Departemen Keuangan AS, pembengkakan defisit ini disebabkan oleh tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta meningkatnya risiko terkait beban utang yang diperkirakan akan mencapai rekor baru dalam beberapa tahun mendatang. Sepanjang tahun 2026, belanja pemerintah AS diprediksi naik sekitar 6 persen menjadi USD 7,4 triliun, sedangkan penerimaan negara hanya meningkat 3 persen menjadi USD 5,4 triliun.
Penyebab Kenaikan Defisit
Salah satu faktor utama yang memicu pelebaran defisit adalah meningkatnya biaya pembayaran bunga utang. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang berkaitan dengan akumulasi utang, menyebabkan beban bunga semakin membengkak. Pembayaran bunga bersih pemerintah AS diperkirakan meningkat USD 81,4 miliar hingga mencapai rekor USD 1,05 triliun pada tahun fiskal 2026, menjadikannya salah satu dari tiga pos pengeluaran terbesar pemerintah.
Belanja dan Penerimaan Negara
Dari sisi pengeluaran, anggaran program jaminan sosial tetap mendominasi dengan nilai mencapai USD 1,67 triliun, meningkat dari sebelumnya USD 86,4 miliar. Belanja program kesehatan juga meningkat USD 76 miliar menjadi USD 1,07 triliun. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyoroti kewajiban pengembalian dana tarif impor sebagai salah satu faktor pembebanan anggaran, yang merupakan dampak dari putusan Mahkamah Agung AS pada Februari 2026.
Implikasi dan Pandangan Ekonomi
Defisit anggaran AS pada tahun 2026 menjadi yang keempat kalinya secara berturut-turut berada di kisaran USD 2 triliun, yang setara dengan 6 persen dari produk domestik bruto (PDB). Pembengkakan defisit ini menimbulkan perhatian serius di kalangan pelaku pasar, terutama karena terjadi di tengah tingkat pengangguran yang relatif rendah di AS. Bessent menilai bahwa pemerintah dapat menekan laju pertumbuhan utang melalui akselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan optimis bahwa perkembangan kecerdasan buatan dapat meningkatkan produktivitas ekonomi nasional.
Namun, pandangan optimis tersebut ditentang oleh sejumlah ekonom dan pejabat otoritas keuangan global. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, berkomentar bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi membantu, hal itu tidak dapat menghasilkan penyesuaian yang diperlukan secara cukup cepat. Sementara itu, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, menekankan bahwa negara dengan defisit kronis seperti AS harus menghadapi tantangan yang lebih besar dalam pengelolaan keuangan mereka.














