Media Kampung – Irak telah mendevaluasi nilai mata uangnya sebesar 13 persen terhadap dolar AS, langkah ini diambil di tengah tekanan ekonomi yang diakibatkan oleh penutupan Selat Hormuz yang mempengaruhi ekspor minyak negara tersebut. Menurut laporan dari Bank Sentral Irak, harga jual dolar kepada masyarakat sekarang ditetapkan sebesar 1.520 dinar, meningkat dari 1.320 dinar sebelumnya.

Ziad Daoud, kepala ekonom Bloomberg, menjelaskan bahwa setiap guncangan harga minyak di masa lalu selalu membawa Irak pada kesulitan, seperti yang terjadi pada tahun 2008, 2014, dan 2020. Dia menambahkan, situasi ini memaksa Baghdad untuk memilih antara membayar gaji pegawai sektor publik atau mempertahankan nilai dinar, dan mereka memilih untuk membayar gaji.

Kondisi Ekonomi Irak

Bank Sentral Irak menyatakan bahwa keputusan devaluasi ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi ekonomi dan keuangan saat ini berdasarkan rekomendasi kabinet. Meskipun demikian, mereka menegaskan bahwa cadangan devisa Irak masih cukup untuk membiayai perdagangan luar negeri dan menyelesaikan transaksi perbankan internasional.

Irak, yang sangat bergantung pada pendapatan dari minyak, kini menghadapi krisis baru setelah Iran merespon kampanye pengeboman AS-Israel dengan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur utama ekspor minyak Irak. Sejak awal Maret, rata-rata ekspor minyak mentah Irak hanya sekitar 1,25 juta barel per hari, jauh turun dari hampir 3,5 juta barel per hari pada tahun lalu.

Permohonan Bantuan dari IMF

Akibat penurunan pendapatan dari minyak, cadangan devisa Irak juga berkurang dari sekitar USD 100 miliar pada awal perang menjadi USD 80 miliar pada Agustus. Biaya gaji pegawai sektor publik saja mencapai sekitar USD 5 miliar per bulan. Dalam situasi ini, Irak telah mengajukan permohonan untuk program bantuan baru dari IMF.

Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana IMF, menyatakan bahwa mereka akan mendukung permohonan tersebut dengan bantuan pendanaan dan dukungan kebijakan. Namun, dia belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai jenis program yang akan disediakan atau besaran pendanaan yang akan diberikan.

Georgieva juga menekankan pentingnya mengenali perbedaan kondisi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, serta fokus pada negara-negara yang lebih rentan, termasuk Irak dan Lebanon.